Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Manis! Ini Alasan ‘Gula Bebas’ Bisa Bikin Anak Lebih Cepat Gemuk

April 10, 2026 Last Updated 2026-04-10T01:40:33Z

Rasa manis memang menjadi favorit banyak anak. Namun di balik kebiasaan mengonsumsi minuman manis, camilan kemasan, dan makanan olahan, ada ancaman kesehatan yang kerap luput disadari orang tua, yakni konsumsi “gula bebas” berlebihan.


Istilah gula bebas merujuk pada gula yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman oleh produsen, penjual, maupun konsumen. Selain gula pasir, kategori ini juga mencakup gula dalam madu, sirup, hingga jus buah yang sudah kehilangan struktur alami seratnya. Menurut pedoman kesehatan global, gula jenis ini lebih cepat diserap tubuh dibanding gula alami dari buah utuh atau susu.


Perbedaan utama gula bebas dan gula alami terletak pada cara tubuh memprosesnya. Gula alami dalam buah, sayur, dan susu hadir bersama serat serta nutrisi lain yang memperlambat penyerapan. Sementara gula bebas dalam makanan olahan dapat langsung memicu lonjakan gula darah, membuat anak cepat lapar kembali, dan berisiko menambah asupan kalori harian secara berlebihan.


Para ahli gizi anak merekomendasikan agar konsumsi gula bebas tidak melebihi 5 persen dari total kebutuhan energi harian. Untuk anak usia sekolah dengan kebutuhan sekitar 1.600 kalori per hari, batas amannya berkisar 20 gram atau setara empat sendok teh gula per hari. Jumlah ini sering kali sudah terlampaui hanya dari satu botol minuman manis atau beberapa camilan kemasan.


Konsumsi gula bebas berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak. Kondisi ini terjadi karena gula tambahan memberikan kalori tinggi tanpa rasa kenyang yang bertahan lama, sehingga anak cenderung makan lebih banyak. Selain obesitas, pola makan tinggi gula juga dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, gangguan metabolik, hingga penyakit jantung di masa depan.


Tak hanya itu, dampak gula berlebih juga bisa terlihat pada kesehatan gigi dan pencernaan. Bakteri di mulut memanfaatkan gula untuk menghasilkan asam yang merusak enamel gigi, memicu karies atau gigi berlubang. Sementara pada saluran cerna, konsumsi gula tinggi dapat mengganggu keseimbangan bakteri usus dan memicu masalah pencernaan.


Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua disarankan mulai membiasakan anak mengonsumsi rasa manis alami sejak dini. Memberikan buah dalam bentuk utuh, bukan jus, menjadi salah satu langkah sederhana yang efektif karena kandungan seratnya membantu memperlambat penyerapan gula sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.


Membentuk kebiasaan makan sehat sejak kecil dinilai penting karena preferensi rasa anak berkembang dari pengalaman makan hariannya. Semakin sering anak terbiasa dengan makanan terlalu manis, semakin tinggi pula kecenderungan mereka mencari rasa manis berlebih saat tumbuh dewasa.(Rhz2797)