Notification

×

Iklan

Iklan

Airlangga Bertemu Tokoh Dunia di Tokyo, Bahas Ancaman Ekonomi Global hingga Peran Asia

Maret 12, 2026 Last Updated 2026-03-12T00:42:57Z


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan Indonesia mengenai dinamika ekonomi global dalam forum Asian Leaders Roundtable yang menjadi bagian dari Tokyo Conference 2026 di Tokyo, Jepang.


Forum tersebut mempertemukan sejumlah tokoh ekonomi dan mantan pemimpin dunia untuk membahas tantangan ekonomi global serta peran Asia dalam menjaga stabilitas ekonomi internasional.


Acara ini dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan dipandu bersama oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono sebagai co-chair.


Selain itu, sejumlah tokoh penting juga hadir dalam forum tersebut, termasuk Heng Swee Keat, Sri Mulyani Indrawati, Duvvuri Subbarao, Tarisa Watanagase, Ong Keng Yong, serta Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.


Airlangga Soroti Perubahan Tatanan Ekonomi Global


Dalam paparannya, Airlangga menilai dunia saat ini sedang menghadapi perubahan besar dalam tatanan ekonomi global. Menurutnya, fenomena tersebut ditandai dengan meningkatnya politik kekuatan, kebijakan proteksionisme, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateralisme.


Ia mencontohkan keterbatasan kemajuan dalam forum perdagangan global seperti World Trade Organization dalam merespons isu-isu baru seperti perdagangan digital dan ketahanan rantai pasok global.


Selain itu, banyak negara kini lebih memilih pendekatan unilateral maupun bilateral dalam kebijakan ekonominya.


Konflik Timur Tengah Ikut Tekan Ekonomi Dunia


Airlangga juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.


Menurutnya, eskalasi konflik tersebut berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga energi.


Harga minyak dunia bahkan telah melampaui US$100 per barel, dengan fluktuasi yang masih terus terjadi. Selain itu, potensi gangguan jalur energi di Selat Hormuz juga menjadi ancaman serius bagi pasokan energi dunia.


Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Energi


Menghadapi situasi global yang tidak menentu, Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.


Airlangga menyebut pemerintah telah menjalankan berbagai program strategis, termasuk implementasi program biodiesel B40 dan target peningkatan menuju B50.


Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat menuju E20.


Dalam sektor energi terbarukan, Indonesia juga tengah mempersiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 gigawatt sebagai bagian dari strategi jangka panjang transisi energi.


Asia Diprediksi Jadi Kekuatan Ekonomi Baru


Airlangga menilai Asia memiliki potensi besar sebagai kekuatan penyeimbang ekonomi global. Kawasan ini diproyeksikan akan menyumbang sekitar 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2050.


Karena itu, kerja sama regional melalui berbagai forum seperti ASEAN dan G20 menjadi sangat penting untuk memperkuat integrasi ekonomi dan menjaga stabilitas kawasan.


Ia juga menekankan pentingnya mencegah fragmentasi ekonomi dunia menjadi blok-blok yang saling bersaing.


Ekonomi Indonesia Tetap Solid


Dalam forum tersebut, Airlangga juga memaparkan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat di tengah ketidakpastian global.


Perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026, dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali serta defisit fiskal yang stabil.


Selain itu, Indonesia juga berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026.


Pemerintah juga terus mendorong konsep “Indonesia Incorporated”, yakni sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional.


Menutup paparannya, Airlangga menegaskan bahwa Asia memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia pada abad ke-21 jika tetap menjaga keterbukaan perdagangan, kerja sama regional, dan sistem ekonomi yang inklusif.


“Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia,” ujar Airlangga.