Notification

×

Iklan

Iklan

Ancaman Iran Bikin Dunia Tegang! Selat Hormuz Terancam Ditutup, AS Siap Balas Lebih Dahsyat

Maret 10, 2026 Last Updated 2026-03-10T10:28:50Z

 

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan ancaman serius terkait jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa mereka siap memblokade total pengiriman minyak dari kawasan tersebut jika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran terus berlanjut.


Pernyataan keras itu langsung memicu respons dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menegaskan Washington tidak akan tinggal diam jika Iran benar-benar mengganggu jalur distribusi energi global yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.


Menurut laporan media internasional, juru bicara IRGC melalui media pemerintah Iran menyatakan bahwa pihaknya memegang kendali penuh atas arah konflik yang saat ini berlangsung. Iran, kata mereka, juga akan menentukan kapan dan bagaimana perang tersebut berakhir, termasuk soal keputusan terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz.


“Kami adalah pihak yang akan menentukan akhir dari perang ini,” ujar juru bicara IRGC dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa (10/3/2026).


Ancaman tersebut muncul setelah Iran menegaskan tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun keluar dari Timur Tengah jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terus menghantam wilayah mereka. Pernyataan ini juga muncul di tengah spekulasi global mengenai kepemimpinan baru Iran setelah munculnya nama Mojtaba Khamenei sebagai figur penting dalam struktur kekuasaan Teheran.


Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons ancaman tersebut dengan peringatan keras. Dalam konferensi pers di Washington, ia menyatakan militer AS telah memberikan kerusakan signifikan terhadap kemampuan tempur Iran dan memperkirakan konflik ini bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.


Trump bahkan menegaskan bahwa serangan Amerika akan meningkat secara drastis jika Iran berani mengganggu jalur pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur ini diketahui melayani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga gangguan kecil saja dapat mengguncang ekonomi global.


“Kami akan memukul mereka dengan sangat keras sehingga mereka atau siapa pun yang membantu mereka tidak akan mampu memulihkan wilayah itu,” kata Trump.


Ancaman tersebut kembali ia ulang melalui unggahan di platform Truth Social. Trump menyebut Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih besar jika benar-benar menghentikan aliran minyak dunia.


“Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” tulisnya.


Sementara itu, kondisi di lapangan dilaporkan semakin mencekam. Sebuah kilang minyak di Teheran dilaporkan terkena serangan yang menyebabkan kepulan asap hitam membumbung di langit ibu kota Iran. Pada saat yang sama, militer Israel juga meluncurkan serangan baru ke wilayah tengah Iran serta Beirut, Lebanon, sebagai balasan atas serangan lintas batas yang dilakukan milisi Hizbullah.


Korban jiwa akibat konflik ini juga terus bertambah. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa lebih dari seribu warga sipil telah tewas sejak gelombang serangan udara dan rudal diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.


Menurut laporan tersebut, sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dilaporkan meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan di berbagai wilayah negara tersebut.


Dampak konflik ini juga mulai terasa di sektor energi global. Aktivitas di Selat Hormuz dilaporkan terganggu sehingga sejumlah kapal tanker tidak dapat berlayar selama lebih dari sepekan. Beberapa produsen bahkan terpaksa menghentikan pemompaan minyak karena kapasitas penyimpanan mereka sudah penuh.


Situasi tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 29 persen pada Senin, mencapai level tertinggi sejak 2022. Namun pada Selasa, harga minyak turun sekitar 10 persen setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia untuk menjaga stabilitas pasokan global.


Di dalam negeri Amerika Serikat, dampak perang juga mulai terasa. Kenaikan harga bahan bakar menjadi isu sensitif menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.


Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan sebagian besar warga Amerika meragukan urgensi konflik tersebut. Sekitar 67 persen responden memperkirakan harga bahan bakar akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, sementara hanya 29 persen yang menyatakan mendukung perang tersebut.


Hingga kini situasi di Timur Tengah masih sangat tidak stabil. Pergerakan pasar saham global juga terus berfluktuasi mengikuti perkembangan konflik. Dunia pun kini menunggu apakah ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz benar-benar akan terjadi, sebuah langkah yang berpotensi memicu eskalasi militer besar antara Teheran dan Washington.