Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Penuh Sesak Jelang Lebaran, Sekarang Tanah Abang Lebih Longgar! Ternyata Ini Penyebabnya

Maret 10, 2026 Last Updated 2026-03-10T10:49:00Z


Suasana Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat mulai kembali ramai menjelang Hari Raya Idulfitri. Pengunjung terlihat lalu lalang di lorong-lorong kios pakaian untuk mencari baju Lebaran, meski kondisi keramaian saat ini dinilai belum kembali seperti sebelum pandemi Covid-19.


Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang identik dengan kerumunan padat hingga sulit berjalan, kini pengunjung masih bisa bergerak cukup leluasa di area pasar terbesar di Asia Tenggara tersebut. Banyak orang menilai perubahan pola belanja masyarakat menjadi faktor utama berkurangnya kepadatan pengunjung.


Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa sejak pandemi, kebiasaan konsumen mulai berubah. Banyak pembeli yang kini lebih memilih berbelanja secara online karena dinilai lebih praktis dan hemat waktu.


Verni, salah satu pedagang pakaian di Tanah Abang, mengaku kondisi tersebut membuat para pedagang harus beradaptasi dengan memanfaatkan platform digital untuk tetap bertahan.


Ia mengatakan kini tidak hanya mengandalkan penjualan langsung di toko, tetapi juga menjual produk secara online melalui marketplace.


“Kalau cuma mengandalkan jualan di toko saja sekarang susah. Saya juga jualan di platform online supaya tetap bisa dapat pembeli. Alhamdulillah kalau mendekati Lebaran tetap ada peningkatan, tapi ramainya beda jauh dengan dulu,” ujar Verni saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Selasa (10/3/2026).


Menurutnya, pada masa lalu masyarakat datang ke Tanah Abang karena pilihan pakaian yang sangat beragam. Namun kini, hampir semua kebutuhan bisa ditemukan melalui ponsel.


Perubahan serupa juga dirasakan pedagang lain bernama Oong. Ia menilai perkembangan teknologi dan maraknya platform digital membuat persaingan semakin berat bagi pedagang pasar konvensional.


Menurut Oong, banyak konsumen yang beralih ke belanja online karena bisa dilakukan kapan saja tanpa harus datang langsung ke pasar.


“Sekarang orang sudah terbiasa belanja lewat online. Tanah Abang jadi terasa lebih sepi karena banyak yang pindah ke platform digital,” ujarnya.


Salah satu faktor yang cukup berpengaruh adalah tren live shopping di media sosial seperti TikTok. Fitur tersebut memungkinkan penjual mempromosikan produk secara langsung sambil berinteraksi dengan calon pembeli.


Oong menilai metode tersebut membuat pengalaman belanja online terasa hampir sama dengan berbelanja langsung di toko.


“Sekarang orang sambil rebahan juga bisa beli baju. Penjual di live itu biasanya menjelaskan detail bahan, ukuran, sampai modelnya,” kata dia.


Fenomena ini juga diakui oleh para pembeli. Ledis, pengunjung asal Bandung, mengaku dalam beberapa tahun terakhir lebih sering membeli pakaian secara online dibanding datang langsung ke pasar.


Menurutnya, belanja online terasa lebih praktis, terutama saat bulan puasa.


“Biasanya saya beli online karena lebih gampang. Apalagi kalau lagi puasa rasanya capek kalau harus keliling pasar. Tapi sekarang saya datang karena lagi cari barang dalam jumlah banyak,” ujarnya.


Ia menambahkan fitur live shopping membuat pembeli bisa melihat produk dengan lebih jelas sebelum memutuskan untuk membeli.


“Harganya juga tidak jauh beda. Sekarang ada live-nya, jadi kita bisa tanya langsung soal bahan, ukuran, dan modelnya,” katanya.


Di media sosial, tren live shopping memang semakin populer. Beberapa siaran langsung yang menjual pakaian, termasuk baju Lebaran, bahkan mampu menarik ratusan hingga lebih dari 800 penonton dalam satu sesi.


Cara belanja ini dinilai praktis karena pengguna cukup menonton siaran langsung, berinteraksi dengan penjual, lalu melakukan pembayaran langsung dari aplikasi tanpa harus berpindah platform.


Jika produk yang ditawarkan tidak sesuai, pengguna cukup menggulir layar untuk mencari siaran live lainnya. Kemudahan ini membuat banyak orang tidak lagi perlu menghabiskan waktu berkeliling pusat perbelanjaan.


Perubahan kebiasaan belanja ini menjadi tantangan baru bagi pusat perdagangan tradisional seperti Pasar Tanah Abang. Meski tetap ramai menjelang Lebaran, pola keramaian yang dulu identik dengan kepadatan luar biasa kini mulai berubah seiring perkembangan teknologi dan tren belanja digital.