Notification

×

Iklan

Iklan

BBM B50 Belum Bisa Meluncur Cepat, Produsen Biofuel Bongkar Kendala Besarnya

Maret 13, 2026 Last Updated 2026-03-12T22:43:59Z

Rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran biodiesel menjadi B50 ternyata belum dapat langsung diterapkan dalam waktu dekat. Sejumlah kendala masih harus diselesaikan, mulai dari regulasi, kesiapan teknologi, hingga kapasitas produksi industri biodiesel di dalam negeri.


Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyebut implementasi kebijakan tersebut membutuhkan persiapan matang agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.


Regulasi Masih Harus Disesuaikan


Sekretaris Jenderal Aprobi, Ernest Gunawan, menjelaskan bahwa penerapan B50 tidak bisa langsung dijalankan meskipun pemerintah menargetkan implementasinya pada semester II tahun 2026.


Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih perlu menyesuaikan sejumlah aturan yang berkaitan dengan distribusi dan alokasi biodiesel.


Ia menyebut perubahan regulasi seperti Peraturan Menteri ESDM hingga keputusan terkait kuota distribusi perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum kebijakan B50 benar-benar diterapkan secara nasional.


Uji Jalan Masih Berlangsung


Selain regulasi, kesiapan teknis juga masih dalam tahap pengujian. Saat ini pemerintah masih melakukan uji jalan atau road test untuk memastikan penggunaan bahan bakar B50 aman digunakan pada kendaraan.


Ernest menjelaskan bahwa uji jalan tersebut baru mencapai jarak sekitar 30.000 kilometer. Sementara itu, untuk memastikan keamanan dan keandalan penggunaan biodiesel, pengujian idealnya mencapai minimal 50.000 kilometer.


Proses pengujian ini penting untuk memastikan performa kendaraan tetap optimal serta tidak menimbulkan kerusakan pada mesin.


Kebutuhan Biodiesel Akan Melonjak


Jika program B50 benar-benar diterapkan, kebutuhan biodiesel nasional diperkirakan akan meningkat cukup signifikan. Saat ini konsumsi solar di Indonesia berada di kisaran 39 hingga 39,5 juta kiloliter per tahun.


Dengan penerapan B50, kebutuhan biodiesel diprediksi bisa mencapai sekitar 19,5 juta kiloliter.


Namun dari sisi pasokan, industri biodiesel nasional dinilai belum sepenuhnya siap memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut.


Kapasitas Produksi Masih Kurang


Menurut data Aprobi, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini berada di sekitar 22 juta kiloliter per tahun. Namun dalam praktiknya, produksi riil biasanya hanya mencapai sekitar 80 persen dari kapasitas tersebut.


Artinya, produksi biodiesel nasional saat ini diperkirakan hanya sekitar 17,6 juta kiloliter per tahun. Angka tersebut masih kurang sekitar 2 juta kiloliter jika program B50 dijalankan.


Karena itu, Aprobi menilai diperlukan tambahan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi agar program B50 dapat berjalan secara stabil dalam jangka panjang.


Infrastruktur Distribusi Juga Jadi Tantangan


Selain produksi, kesiapan infrastruktur distribusi bahan bakar juga menjadi perhatian penting. Keberhasilan program B50 tidak hanya bergantung pada produsen biodiesel, tetapi juga kesiapan fasilitas penyimpanan dan distribusi.


Ernest menyoroti perlunya tangki penyimpanan tambahan untuk memisahkan jenis bahan bakar seperti B40 dan B50, khususnya untuk kebutuhan sektor otomotif.


Jika fasilitas penyimpanan tidak memadai, proses distribusi bahan bakar bisa menjadi tidak optimal.


Program B40 Dinilai Berjalan Baik


Sementara itu, implementasi program B40 pada tahun 2025 dinilai berjalan cukup baik. Dari total alokasi distribusi domestik sebesar 15,6 juta kiloliter, realisasinya mencapai sekitar 14,9 juta kiloliter.


Untuk tahun 2026, alokasi biodiesel diperkirakan tidak mengalami perubahan signifikan, yakni sekitar 15,6 juta kiloliter dengan tambahan sekitar 30.000 kiloliter.


Aprobi juga mencatat adanya satu perusahaan baru yang bergabung dalam industri biodiesel nasional, sehingga total kapasitas terpasang saat ini mencapai sekitar 22 juta kiloliter.


Meski demikian, Aprobi mengingatkan bahwa implementasi B50 tetap perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dampaknya terhadap sektor pangan serta kesiapan industri energi nasional.