Notification

×

Iklan

Iklan

Menkes Bongkar Penyebab Gagal Ginjal Naik Drastis, Ternyata Kebiasaan Ini Jadi Biang Kerok

April 21, 2026 Last Updated 2026-04-21T08:24:32Z

Kasus gagal ginjal di Indonesia mengalami lonjakan tajam dalam lima tahun terakhir. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa peningkatan ini bahkan membuat beban pembiayaan BPJS Kesehatan membengkak hingga ratusan persen, melampaui sejumlah penyakit besar lainnya seperti jantung, kanker, hingga stroke.


Pernyataan tersebut disampaikan Menkes saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Senin, 20 April 2026. Dalam paparannya, ia menyoroti kondisi kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan, khususnya terkait penyakit ginjal kronis.


Menurut Budi, lonjakan kasus gagal ginjal menjadi salah satu beban terbesar dalam sistem pembiayaan kesehatan nasional. Data menunjukkan bahwa pembiayaan untuk penyakit ginjal meningkat hingga 476,2 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.


“Ada juga beberapa angka menarik, misalnya ginjal tuh, naiknya sampai 476 persen tuh dalam lima tahun terakhir,” ujar Menkes dalam rapat tersebut.


Konsumsi Gula Berlebih Jadi Penyebab Utama


Menkes menegaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya kasus gagal ginjal adalah tingginya konsumsi gula di masyarakat. Pola makan dan minum yang tinggi gula dinilai menjadi pemicu utama kerusakan fungsi ginjal dalam jangka panjang.


Ia menjelaskan bahwa banyak masyarakat belum menyadari dampak serius dari konsumsi gula berlebihan, terutama dari minuman manis kemasan, makanan olahan, hingga kebiasaan konsumsi harian yang tidak terkontrol.


“Ginjal itu penyebab utamanya gula, Pak. Itu sebabnya kami mau tekan gula ini supaya jangan sampai orang Indonesia gagal ginjal sampai Rp13 triliun sendiri BPJS hanya untuk bayar beban ginjal,” tegasnya.


Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit ginjal bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi juga menjadi persoalan ekonomi nasional karena tingginya biaya pengobatan yang harus ditanggung negara.


Nutri-Level Disiapkan Jadi Solusi


Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan mendorong penerapan kebijakan Nutri-Level. Sistem ini akan memberikan label pada produk makanan dan minuman berdasarkan kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL).


Label tersebut akan menggunakan skala dari A hingga D. Peringkat A ditandai warna hijau tua sebagai kategori paling sehat, sedangkan peringkat D berwarna merah sebagai tanda produk yang perlu dibatasi konsumsinya.


Melalui sistem ini, pemerintah berharap masyarakat dapat lebih mudah memahami kandungan gizi produk yang dikonsumsi setiap hari dan membuat pilihan yang lebih sehat.


Kebijakan ini juga diharapkan dapat membantu menekan angka penyakit tidak menular, termasuk gagal ginjal, diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung yang terus meningkat setiap tahun.


Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci Pencegahan


Lonjakan kasus gagal ginjal menjadi peringatan serius bagi masyarakat untuk mulai memperhatikan pola hidup sehari-hari. Mengurangi konsumsi gula berlebih, memperbanyak air putih, menjaga tekanan darah, serta rutin memeriksa kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal sejak dini.


Pemerintah kini berupaya menekan laju peningkatan kasus melalui regulasi dan edukasi, namun perubahan terbesar tetap harus dimulai dari kebiasaan masyarakat sendiri.


Jika tidak dikendalikan, gagal ginjal bukan hanya mengancam kualitas hidup, tetapi juga berpotensi menjadi krisis kesehatan yang semakin besar di masa depan.(Rhz2797)