Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Ledakan dilaporkan terjadi di Teheran dan beberapa wilayah strategis lainnya.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah titik di kawasan yang menjadi lokasi pangkalan militer AS di bawah Komando Pusat AS (CENTCOM). Dalam situasi ini, kemampuan rudal Iran menjadi sorotan utama karena berperan penting dalam kalkulasi militer kawasan.
Bagi Teheran, rudal bukan sekadar alat tempur, tetapi instrumen penangkal strategis di tengah keterbatasan kekuatan udara dan tekanan sanksi internasional. Lalu, seberapa besar sebenarnya kekuatan rudal Iran?
Rudal Balistik Jarak Pendek (SRBM)
Rudal balistik jarak pendek atau Short-Range Ballistic Missile (SRBM) merupakan tulang punggung kekuatan rudal Iran. Berdasarkan klasifikasi Congressional Research Service (CRS), SRBM memiliki jangkauan 70 hingga 1.000 kilometer.
Jenis rudal ini umumnya digunakan untuk menyerang pangkalan militer, fasilitas strategis, hingga infrastruktur penting di negara sekitar.
Beberapa SRBM utama Iran antara lain:
- Shahab-1: Jangkauan hingga 300 km
- Shahab-2: Sekitar 500 km
- Qiam-1: 700–800 km
- Fateh-110 dan variannya (Khalij Fars, Hormuz): Sekitar 300 km
- Fateh-313: 500 km
- Zolfaghar: 700 km
- Dezful: Hingga 1.000 km
Dengan jangkauan tersebut, Iran mampu menjangkau hampir seluruh kawasan Teluk, termasuk pangkalan militer asing di negara-negara sekitar.
Rudal Balistik Jarak Menengah (MRBM)
Selain SRBM, Iran juga mengembangkan rudal balistik jarak menengah atau Medium-Range Ballistic Missile (MRBM).
Menurut klasifikasi CRS, MRBM memiliki jangkauan antara 1.000 hingga 3.000 kilometer, bahkan beberapa standar menyebut hingga 3.500 kilometer.
Dengan kategori ini, Iran berpotensi menjangkau target yang lebih jauh di Timur Tengah dan sebagian wilayah Eropa Timur. Rudal jenis ini memperluas cakupan strategis Iran secara signifikan dibandingkan SRBM.
Kemampuan MRBM membuat perhitungan risiko militer semakin kompleks bagi negara-negara sekutu AS di kawasan.
Rudal Jelajah Serangan Darat (LACM)
Iran juga memiliki Land-Attack Cruise Missile (LACM), yakni rudal jelajah yang dirancang untuk menyerang target darat, baik tetap maupun bergerak.
Berbeda dengan rudal balistik yang meluncur tinggi sebelum jatuh ke target, rudal jelajah terbang rendah dan mengikuti jalur yang telah diprogram. Menurut National Air and Space Intelligence Center (NASIC), karakteristik ini membuatnya lebih sulit terdeteksi radar.
Beberapa LACM utama Iran meliputi:
- Soumar (jangkauan tidak dipublikasikan)
- Hoveizeh: Sekitar 1.350 km
- Ya Ali: Sekitar 700 km
- Paveh: Diklaim hingga 1.650 km
Dengan kemampuan terbang rendah dan presisi tinggi, LACM menjadi elemen penting dalam strategi serangan jarak jauh Iran.
Faktor Penentu Eskalasi
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran, AS, dan Israel, kekuatan rudal menjadi faktor penentu dalam peta konflik. Kemampuan jangkauan ratusan hingga ribuan kilometer memberi Iran daya tekan strategis terhadap pangkalan militer, fasilitas energi, dan infrastruktur penting di kawasan.
Meski demikian, efektivitas sebenarnya dari sistem ini sangat bergantung pada akurasi, pertahanan udara lawan, serta dinamika politik internasional yang terus berubah.
Yang jelas, di tengah eskalasi terbaru ini, peta kekuatan rudal Iran menjadi variabel krusial dalam membaca arah konflik Timur Tengah ke depan.
