Perang terbuka antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memasuki hari keenam. Namun, alih-alih melemah, Teheran justru menunjukkan daya tahan yang mengejutkan banyak pihak. Serangan balasan terus diluncurkan, bahkan menyasar situs militer sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Meski sebagian besar rudal dan drone Iran berhasil dicegat sistem pertahanan udara AS dan negara-negara Arab, beberapa tetap lolos dan memicu kerusakan di titik-titik strategis. Negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, hingga Kuwait ikut terdampak karena menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Situasi ini makin kompleks karena terjadi setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan sebelumnya. Banyak analis memprediksi Iran akan goyah. Namun faktanya, respons Teheran justru semakin agresif.
Lalu, apa yang membuat Iran tetap “gagah” di tengah tekanan militer dan embargo internasional?
1. Dugaan Miskalkulasi AS-Israel
Sejumlah pengamat menilai Washington dan Tel Aviv kemungkinan meremehkan daya tahan Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya dikabarkan meyakini tekanan udara intensif dapat memaksa Iran menyerah dalam hitungan pekan.
Strategi tersebut bahkan disebut-sebut bertumpu pada asumsi bahwa kematian Khamenei akan memicu instabilitas domestik. Namun yang terjadi justru sebaliknya: sentimen nasionalisme dan semangat perlawanan di dalam negeri menguat.
Alih-alih turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan, publik Iran menunjukkan solidaritas terhadap struktur negara dan militer mereka.
2. Swasembada Alutsista di Tengah Embargo
Selama puluhan tahun berada di bawah sanksi ketat Barat, Iran dipaksa membangun industri pertahanan mandiri. Hasilnya, Teheran kini mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan militernya sendiri, termasuk rudal balistik dan drone tempur.
Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bahkan mengklaim lebih dari 90% peralatan tempur mereka merupakan produksi dalam negeri. Embargo yang awalnya dimaksudkan untuk melemahkan justru mendorong inovasi teknologi militer domestik.
Tak hanya memenuhi kebutuhan internal, Iran juga dilaporkan mengekspor drone dan sistem persenjataan ke Rusia sejak invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.
3. Struktur Politik yang Tahan Guncangan
Sistem politik Iran dikenal unik dan berlapis. Meski figur pemimpin tertinggi memiliki pengaruh besar, roda pemerintahan tetap berjalan melalui mekanisme kelembagaan yang sudah mapan.
Iran juga memiliki pengalaman panjang menghadapi ancaman pembunuhan terhadap tokoh-tokoh militernya. Kondisi ini membuat negara tersebut memiliki sistem kontingensi yang relatif siap menghadapi skenario terburuk.
Kematian pemimpin tidak otomatis melumpuhkan struktur kekuasaan. Justru dalam banyak kasus, peristiwa tersebut memperkuat konsolidasi internal.
4. Dukungan Teknologi dari Rusia dan China
Secara terbuka, Rusia dan China memang tidak menyatakan terlibat langsung dalam konflik. Namun keduanya mengecam serangan terhadap Iran dan selama bertahun-tahun menjadi mitra strategis Teheran.
Rusia dilaporkan memasok perangkat keras militer berat, termasuk sistem pertahanan udara dan jet tempur. Sementara China disebut membantu dalam bidang teknologi navigasi, sistem radar, serta dukungan siber dan kecerdasan buatan.
Kolaborasi ini memperkuat daya tahan Iran, terutama dalam aspek pengintaian, pemandu rudal, hingga kemampuan jamming elektronik.
Perang Belum Usai, Ketahanan Iran Jadi Sorotan
Konflik Iran melawan AS dan Israel menunjukkan bahwa tekanan militer dan sanksi ekonomi tidak selalu langsung melumpuhkan sebuah negara. Kombinasi nasionalisme domestik, kemandirian industri pertahanan, struktur politik yang solid, serta dukungan teknologi dari mitra global menjadi faktor utama ketahanan Teheran.
Meski demikian, eskalasi berkepanjangan tetap menyimpan risiko besar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi global. Dunia kini menanti: akankah konflik ini meluas, atau justru membuka ruang diplomasi baru?
