Notification

×

Iklan

Iklan

Duka Mendalam di Bulan Ramadan, Iran Gelar Berkabung Nasional Usai Khamenei Gugur

Maret 01, 2026 Last Updated 2026-03-01T11:30:19Z


Ribuan warga Iran memadati sejumlah titik di ibu kota Teheran pada Minggu (1/3/2026), sehari setelah pengumuman wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.


Momen duka ini terasa semakin mendalam karena terjadi di bulan suci Ramadan. Warga terlihat membawa foto Khamenei, mengibarkan bendera hitam, serta melantunkan doa dan ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan terakhir.


Foto-foto yang beredar luas, termasuk dokumentasi dari Reuters, memperlihatkan kerumunan besar di pusat kota Teheran dengan suasana haru dan penuh emosi.




Pemerintah Tetapkan Masa Berkabung Nasional


Pemerintah Iran sebelumnya mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari menyusul kabar wafatnya Khamenei. Sejumlah kegiatan resmi dan acara publik ditunda, sementara siaran televisi nasional menampilkan tayangan khusus bernuansa duka.


Kematian Khamenei dilaporkan terjadi dalam serangan militer yang dikaitkan dengan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Iran menyebutnya sebagai tindakan agresi dan menyatakan akan mengambil langkah tegas sebagai respons.




Duka dan Ketegangan Berbaur


Suasana berkabung di Teheran berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. Selain prosesi doa bersama, aparat keamanan juga terlihat berjaga di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi potensi gangguan.


Bagi sebagian warga, kepergian Khamenei dianggap sebagai kehilangan besar bagi Republik Islam Iran yang telah dipimpinnya sejak 1989. Namun, situasi politik dan keamanan yang masih memanas membuat suasana duka juga dibayangi kekhawatiran akan eskalasi lanjutan.


Ramadan yang Penuh Ujian


Bulan Ramadan biasanya menjadi momentum refleksi dan ketenangan spiritual bagi umat Muslim di Iran. Namun tahun ini, suasana berbeda terasa di berbagai kota, khususnya di Teheran.


Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang memanjatkan doa tidak hanya untuk almarhum Khamenei, tetapi juga untuk stabilitas dan keselamatan negara di tengah situasi yang tidak menentu.


Perkembangan selanjutnya terkait dinamika politik dan keamanan Iran masih terus dipantau dunia internasional, sementara rakyat Iran menjalani Ramadan dalam suasana duka nasional.