Suasana berbeda terlihat di kawasan sentra parsel di Jalan Ondomohen. Jika biasanya kawasan ini dipadati pembeli menjelang Lebaran, kini kondisi pertokoan tampak jauh lebih sepi.
Kompleks toko yang dahulu ramai oleh pengunjung yang mencari parsel kini hanya menyisakan suasana lengang. Dari puluhan toko parsel yang sebelumnya berjajar di sepanjang jalan, kini hanya tersisa kurang dari 10 toko yang masih bertahan. Sebagian besar toko bahkan terpaksa tutup atau mengganti jenis dagangannya.
Padahal, sebagian besar toko parsel di kawasan tersebut bukanlah usaha musiman. Para pedagang biasanya memproduksi parsel setiap hari dan menjelang Lebaran menjadi puncak penjualan mereka.
Penjualan Turun Drastis Sejak Pandemi
Salah satu toko yang masih bertahan lebih dari dua dekade adalah Elson Parcel. Pemiliknya, Fitri Nurul (50), mengungkapkan bahwa penjualan parsel terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, situasi saat ini sangat berbeda dibandingkan masa-masa sebelum pandemi.
“Sekarang sepi, mungkin karena kebutuhan masyarakat juga makin banyak. Tidak seperti dulu, dulu pembeli sampai berjubel di sini,” ujar Nurul saat ditemui di tokonya.
Ia mengaku, meski Lebaran semakin dekat, penjualan masih jauh dari harapan.
Dari 1.000 Parsel Sehari Kini Tak Sampai 100
Nurul mengenang masa ketika bisnis parselnya sangat ramai menjelang hari raya. Saat itu, ia mampu menjual lebih dari 1.000 parsel per hari.
Namun kondisi tersebut kini berubah drastis. Saat ini, penjualan bahkan tidak mencapai 100 paket per hari.
“Dulu bisa sampai 1.000 bahkan lebih tiap hari. Sekarang 100 saja tidak sampai, paling 30 atau 50 saja,” ungkapnya.
Banyak parsel yang akhirnya harus dibongkar kembali jika terlalu lama tidak terjual.
Menurut Nurul, jika parsel sudah disimpan hingga tiga bulan dan mendekati masa kedaluwarsa, isi paket tersebut harus dikembalikan atau diganti.
Jualan Online Belum Mampu Dongkrak Penjualan
Untuk bertahan, Nurul mencoba berbagai cara, termasuk menjual parsel melalui platform online. Namun upaya tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.
Ia mengatakan persaingan harga di penjualan online sangat ketat sehingga pedagang sering terpaksa menurunkan harga hingga jauh dari harga normal.
“Kita sudah coba jual online juga, tapi hasilnya sama saja. Malah harus banting harga kalau online, itu yang berat,” katanya.
Harga parsel yang dijual di tokonya bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp4 juta, tergantung ukuran dan isi paket.
Bahkan beberapa parsel yang awalnya dijual sekitar Rp200.000 kini harus diturunkan hingga Rp100.000 agar bisa menarik pembeli.
Produksi Parsel Juga Terpaksa Dikurangi
Penurunan penjualan juga memaksa Nurul mengurangi jumlah produksi. Jika dulu ia mampu memproduksi hingga 6.000 parsel per hari, kini produksinya dibatasi hanya sekitar 3.000 parsel per hari.
Pelanggan tokonya tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan pernah sampai ke Papua.
Meski demikian, kondisi pasar yang terus menurun membuat para pedagang parsel di kawasan Jalan Ondomohen harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan usaha mereka.
Cerita Nurul menjadi gambaran nyata bagaimana para pengusaha parsel kini berjuang menghadapi penurunan minat pembeli, meskipun momen Lebaran biasanya menjadi puncak penjualan setiap tahunnya.
