Ketegangan global kembali meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Serangan ini menjadi sorotan internasional karena dianggap sebagai langkah berani yang memperluas konflik ke luar kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, dua rudal yang diluncurkan tersebut gagal mencapai target. Satu rudal dilaporkan jatuh sebelum sampai ke lokasi, sementara rudal lainnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan.
Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, memastikan bahwa serangan tersebut memang menargetkan pangkalan strategis tersebut. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan penilaian menyeluruh terkait ancaman tersebut.
Di sisi lain, militer Israel mengungkapkan bahwa Iran menggunakan rudal balistik dua tahap dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer. Kepala Staf Israel, Eyal Zamir, menyebutkan bahwa rudal tersebut bahkan mampu menjangkau kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, hingga Roma.
Laporan awal mengenai serangan ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat. Serangan ini juga disebut sebagai penggunaan operasional pertama rudal jarak menengah Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Pemerintah Inggris melalui kementerian pertahanannya mengecam tindakan Iran yang dinilai sembrono, terutama karena turut mengganggu stabilitas di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia. Inggris pun terus mengerahkan jet tempur dan aset militer untuk melindungi kepentingannya di kawasan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons keras situasi ini. Ia memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak, AS mengancam akan melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Ancaman tersebut langsung memicu reaksi dari Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas dengan penghancuran fasilitas energi di seluruh kawasan.
Sementara itu, konflik antara Iran dan Israel juga semakin memanas. Serangan rudal Iran dilaporkan menghantam wilayah dekat fasilitas nuklir Israel di Dimona dan Arad, menyebabkan puluhan korban luka. Ini menjadi salah satu momen paling sensitif sejak konflik berlangsung, karena fasilitas nuklir mulai menjadi sasaran langsung.
Dampak konflik ini juga terasa di sektor energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak dunia kini mengalami gangguan serius. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam, dengan Brent mencapai US$112,19 per barel—level tertinggi sejak 2022.
Untuk meredam lonjakan harga energi, Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa dengan melonggarkan sanksi terhadap pembelian minyak Iran selama 30 hari. Negara-negara G7 pun menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga stabilitas pasokan energi global serta keamanan jalur pelayaran internasional.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik yang awalnya regional kini berpotensi berkembang menjadi krisis global, dengan dampak luas terhadap keamanan, ekonomi, dan stabilitas dunia.
