Notification

×

Iklan

Iklan

Habis Lebaran Jangan Kebablasan! Pola Makan Ini Bisa Selamatkan Ginjalmu

Maret 27, 2026 Last Updated 2026-03-27T13:26:12Z

Setelah menjalani bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri, banyak orang mengalami perubahan pola makan dan minum. Konsumsi makanan tinggi garam, santan, hingga minuman manis cenderung meningkat selama momen tersebut. Karena itu, masyarakat diimbau untuk segera kembali ke pola hidup sehat, terutama demi menjaga kesehatan ginjal.


Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, dr. Jonny, mengingatkan bahwa kebiasaan makan berlebihan selama Ramadan dan Lebaran dapat berdampak serius jika tidak segera dikendalikan. Ginjal sebagai organ vital memiliki fungsi menyaring racun dan menjaga keseimbangan cairan tubuh, sehingga sangat bergantung pada pola konsumsi yang sehat.


Menurut dr. Jonny, air putih harus kembali menjadi pilihan utama setelah libur panjang. Sementara itu, asupan makanan tinggi garam dan minuman manis perlu dibatasi karena dapat membebani kerja ginjal dan memicu gangguan kesehatan.


Konsumsi gula dan garam berlebih diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan hipertensi dan diabetes—dua faktor utama penyebab penyakit ginjal kronis.


Data dari BPJS Kesehatan periode 2020–2025 menunjukkan adanya lonjakan signifikan dalam kasus penyakit ginjal. Jumlah peserta yang menjalani layanan terkait ginjal meningkat dari ratusan ribu menjadi lebih dari setengah juta jiwa, dengan total kasus mencapai jutaan setiap tahunnya. Biaya pengobatan pun melonjak hingga puluhan triliun rupiah secara kumulatif.


Dalam layanan pengobatan, prosedur cuci darah atau hemodialisis menjadi yang paling banyak digunakan dan menyedot biaya terbesar. Jumlah pasien yang menjalani terapi ini terus meningkat setiap tahun, menandakan tingginya angka kasus penyakit ginjal tahap lanjut di Indonesia.


Selain itu, metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) juga menunjukkan peningkatan, meskipun jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan hemodialisis. Sementara transplantasi ginjal masih terbatas dengan jumlah tindakan yang relatif sedikit setiap tahunnya.


Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan menjadi sangat penting. dr. Jonny menegaskan bahwa sebagian besar kasus yang meningkat bukan berasal dari pasien baru, melainkan akibat kondisi yang semakin memburuk karena kurangnya pengendalian sejak dini.


Upaya promotif dan preventif dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan risiko penyakit ginjal. Hal ini dapat dimulai dengan menjaga pola makan sehat, rutin memeriksa tekanan darah dan gula darah, serta melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana seperti tes urine.


Dengan kebiasaan hidup sehat dan pemantauan rutin, risiko penyakit ginjal kronis dapat ditekan sejak awal. Selain meningkatkan kualitas hidup, langkah ini juga membantu mengurangi beban biaya pengobatan yang terus meningkat di sistem kesehatan nasional.