Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang melakukan penyesuaian produksi batu bara nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan ini tengah dipertimbangkan di tengah lonjakan harga batu bara global yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah menilai situasi pasar komoditas saat ini masih sangat dinamis. Oleh karena itu, keputusan terkait produksi batu bara belum akan diambil secara tergesa-gesa.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan bahwa lonjakan harga batu bara yang terjadi belakangan ini masih tergolong fenomena baru sehingga perlu dicermati lebih lanjut sebelum menentukan langkah kebijakan.
Menurutnya, pemerintah tetap menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas sektor energi nasional.
“Peristiwa ini baru terjadi belakangan. Jadi jangan langsung terburu-buru mengambil kesimpulan. Antisipasi tentu sudah kami siapkan,” ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).
Tri menjelaskan bahwa salah satu opsi yang sedang disiapkan adalah kemungkinan revisi RKAB 2026 apabila kondisi pasar benar-benar membutuhkan penyesuaian produksi.
Meski begitu, pemerintah belum memastikan apakah produksi batu bara akan ditambah, dikurangi, atau tetap sesuai rencana awal. Semua keputusan masih menunggu perkembangan kondisi pasar global.
Ia menegaskan bahwa berbagai skenario kebijakan telah disiapkan sebagai langkah antisipatif. Namun, implementasinya akan ditentukan setelah melihat perkembangan situasi yang lebih jelas.
Dalam merespons kenaikan harga komoditas, pemerintah juga menekankan pentingnya kehati-hatian agar kebijakan tidak justru menimbulkan gejolak baru di pasar.
Menurut Tri, keputusan terkait produksi batu bara harus mempertimbangkan keseimbangan antara suplai dan permintaan di pasar global maupun domestik.
Jika produksi dinaikkan secara berlebihan hanya karena harga sedang tinggi, ada risiko harga justru kembali turun ketika pasokan melimpah.
“Ini soal keseimbangan suplai dan demand. Jangan sampai produksi dinaikkan terlalu besar, lalu setelah itu harga malah anjlok,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga dan situasi geopolitik global sebelum menentukan arah kebijakan produksi batu bara Indonesia ke depan.
