Pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap aman meskipun harga minyak dunia melonjak akibat konflik di Timur Tengah.
Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai menghadiri pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto, para mantan presiden dan wakil presiden, serta sejumlah ketua umum partai politik di Istana Negara, Jakarta, Selasa malam (3/3/2026).
Pertemuan tersebut membahas kapasitas fiskal Indonesia dalam menghadapi potensi tekanan harga energi global imbas perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Simulasi APBN: Subsidi BBM Tak Akan Jebol
Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan telah melakukan berbagai simulasi jika krisis global berlangsung berkepanjangan. Hasilnya, APBN 2026 dinilai masih cukup kuat menahan tekanan, termasuk untuk menjaga subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi defisit anggaran melebar secara signifikan akibat lonjakan harga minyak.
“Kalau analisa kita sekarang masih cukup baik. Tidak ada masalah karena penerimaan pajak juga membaik,” ujarnya.
Harga Minyak Dunia Naik
Konflik di kawasan Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah global sejak awal pekan.
Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru:
- Brent crude tercatat di kisaran US$80 per barel
- West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$72 per barel
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen utama minyak dunia.
Penerimaan Pajak Jadi Penopang Utama
Ketahanan fiskal Indonesia, menurut Purbaya, juga ditopang oleh kinerja penerimaan negara yang solid. Hingga Januari 2026, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7% secara tahunan (year on year).
Pertumbuhan signifikan tersebut menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi dan kepatuhan wajib pajak.
Dengan tren tersebut, pemerintah optimistis lonjakan harga minyak masih bisa diserap tanpa harus mengubah postur anggaran secara drastis.
Anggaran Subsidi Energi 2026 Lebih Besar
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025, anggaran subsidi BBM dan energi dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp210,06 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan alokasi tahun sebelumnya sebesar Rp203,41 triliun.
Pemerintah telah menghitung skenario harga minyak pada level tertentu sepanjang tahun. Jika terjadi lonjakan ekstrem, evaluasi ulang akan dilakukan.
Pemerintah Siap Antisipasi Skenario Terburuk
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik dan pergerakan harga minyak global. Selama kenaikan masih dalam rentang proyeksi, APBN 2026 dinilai mampu menyerap tekanan tersebut.
Namun, jika terjadi lonjakan yang sangat ekstrem dan berkepanjangan, pemerintah akan melakukan perhitungan ulang untuk menjaga stabilitas fiskal nasional.
Dengan berbagai simulasi yang telah disiapkan, pemerintah memastikan subsidi BBM tetap terjaga dan tidak akan “jebol” meski tekanan global meningkat akibat konflik internasional.
