Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS), Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Serangan ini disebut sebagai balasan atas operasi militer gabungan AS dan Israel yang sebelumnya menargetkan fasilitas strategis Iran.
Kantor berita Fars melaporkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membidik sejumlah titik strategis, termasuk Al Udeid Air Base di Qatar, Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, serta markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Ledakan dilaporkan terdengar di Doha, Abu Dhabi, Manama hingga Riyadh. Sejumlah negara langsung menutup wilayah udara mereka sebagai langkah darurat.
Negara Teluk Bereaksi, Wilayah Udara Ditutup
Pemerintah Uni Emirat Arab mengonfirmasi adanya korban jiwa setelah sistem pertahanan udara mencegat beberapa rudal. Otoritas setempat mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.
Di Bahrain, sirene peringatan dibunyikan dan warga diminta mencari perlindungan. Sementara itu, Qatar dan Kuwait juga menutup sementara penerbangan sipil.
Eskalasi ini terjadi di tengah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya diumumkan media pemerintah Iran. IRGC dalam pernyataannya menyebut kematian Khamenei sebagai “kemartiran” dan menegaskan bahwa pembalasan akan terus dilakukan.
Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Serangan Iran menyoroti luasnya jaringan militer Amerika di kawasan. Washington diketahui mengoperasikan sedikitnya 19 lokasi militer permanen dan sementara di Timur Tengah, dengan total sekitar 40.000–50.000 personel.
Berikut sejumlah pangkalan utama AS di kawasan:
- Al Udeid Air Base (Qatar): Basis udara terbesar AS di kawasan dan markas terdepan Komando Pusat AS (CENTCOM), menampung sekitar 10.000 personel.
- Naval Support Activity Bahrain (Bahrain): Markas Armada Kelima AS dengan sekitar 9.000 personel.
- Camp Arifjan (Kuwait): Pusat logistik dan komando Angkatan Darat AS.
- Al Dhafra Air Base (UEA): Basis strategis operasi udara dan pengintaian.
- Erbil Air Base (Irak): Mendukung operasi udara dan koordinasi dengan pasukan lokal.
Selain itu, pangkalan militer AS juga tersebar di Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Irak, menjadikan kawasan Teluk sebagai pusat proyeksi kekuatan militer Washington.
Pernyataan Tegas dari Washington
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengonfirmasi bahwa AS melancarkan operasi militer terhadap target Iran, termasuk infrastruktur militer dan fasilitas yang terkait dengan IRGC.
Dalam pidato resminya, Trump memperingatkan aparat keamanan Iran agar meletakkan senjata atau menghadapi konsekuensi berat. Ia juga menyerukan warga Iran untuk mencari perlindungan di tengah ancaman serangan lanjutan.
Pernyataan tersebut semakin memperkeruh situasi, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional berskala besar.
Timur Tengah di Ambang Eskalasi Lebih Luas
Dengan Iran secara langsung menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara Arab, risiko konflik terbuka di Timur Tengah semakin tinggi. Penutupan wilayah udara, gangguan penerbangan internasional, serta ancaman terhadap jalur energi global menjadi perhatian dunia.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global jika eskalasi terus berlanjut. Dunia kini menanti langkah berikutnya dari Teheran dan Washington di tengah ketegangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
