Notification

×

Iklan

Iklan

Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga, Tapi Beri Syarat Keras Jika Konflik Terus Memanas

Maret 07, 2026 Last Updated 2026-03-07T09:51:27Z


Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meluas. Di tengah situasi yang memanas tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh eskalasi konflik.


Permintaan maaf itu disampaikan Pezeshkian melalui pidato resmi yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran pada Sabtu, 7 Maret 2026. Pernyataan tersebut muncul saat konflik regional telah memasuki pekan kedua dan mulai memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.


Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat untuk menyerang negara-negara tetangga. Namun, ia juga memberikan syarat tegas terkait sikap Iran jika ada serangan yang berasal dari wilayah negara lain.


“Saya meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” ujar Pezeshkian dalam pidato tersebut.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika ada serangan yang datang dari negara lain. Menurutnya, Iran hanya akan melakukan tindakan militer sebagai respons terhadap ancaman yang diarahkan ke negaranya.


Selain itu, Pezeshkian juga menegaskan sikap keras pemerintah Iran terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan menyerah meskipun menghadapi berbagai serangan dan tekanan militer.


“Musuh-musuh harus membawa keinginan mereka agar rakyat Iran menyerah ke kuburan mereka,” tegasnya.


Sementara itu, situasi di lapangan juga menunjukkan peningkatan intensitas konflik. Sekitar 80 jet tempur militer Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer dan pusat rudal Iran di Teheran pada Sabtu waktu setempat.


Serangan tersebut semakin mempertegang situasi di kawasan, terutama setelah beberapa laporan menyebutkan adanya potensi konflik yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah.


Menanggapi perkembangan tersebut, Liga Arab dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Minggu, 8 Maret 2026. Pertemuan ini akan membahas rangkaian serangan yang kini mulai meluas hingga kawasan Teluk serta mencari langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.