Olahraga saat puasa kerap menjadi perdebatan setiap Ramadan. Di satu sisi, aktivitas fisik penting untuk menjaga kebugaran. Namun di sisi lain, tidak semua orang bisa berolahraga tanpa risiko saat tubuh sedang beradaptasi dengan pola makan dan minum yang terbatas.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menegaskan bahwa latihan selama puasa sebaiknya difokuskan untuk mempertahankan kondisi tubuh, bukan mengejar target ekstrem.
Menurutnya, Ramadan bukan waktu ideal untuk memulai program latihan berat atau memasang target kebugaran yang terlalu tinggi.
Siapa Saja yang Perlu Berhati-hati?
Berikut beberapa kelompok yang disarankan untuk lebih waspada atau berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin berolahraga saat puasa:
1. Penderita Penyakit Kronis
Orang dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung perlu pertimbangan khusus. Ketika berpuasa, kadar gula darah dan tekanan darah bisa berubah, sehingga aktivitas fisik berisiko memperburuk kondisi jika tidak terkontrol.
Penyesuaian waktu minum obat, jadwal olahraga, serta intensitas latihan harus dibicarakan dengan dokter yang merawat agar tetap aman.
2. Ibu Hamil dan Menyusui
Ibu hamil dan menyusui memiliki kebutuhan energi dan cairan yang lebih tinggi. Meski sebagian tetap mampu beraktivitas ringan, olahraga saat puasa bisa meningkatkan risiko kelelahan atau dehidrasi jika tidak diawasi dengan baik.
Kelompok ini dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk tetap berolahraga selama Ramadan.
3. Orang yang Belum Terbiasa Berolahraga
Bagi yang jarang berolahraga, puasa bukan momen tepat untuk langsung memulai latihan intensitas tinggi. Tubuh yang belum terbiasa bisa lebih rentan cedera, pusing, atau kelelahan.
Disarankan memulai dengan aktivitas ringan hingga sedang, seperti jalan santai atau stretching, terutama menjelang berbuka atau setelah makan malam.
4. Atlet dengan Target Performa Tinggi
Atlet yang sedang mengejar peningkatan performa juga perlu menyesuaikan strategi latihannya. Ramadan sebaiknya dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran, bukan memaksakan peningkatan performa maksimal.
Latihan dengan intensitas sangat tinggi berisiko mengganggu pemulihan tubuh, apalagi dengan asupan cairan dan nutrisi yang terbatas di siang hari.
Kunci Aman Olahraga Saat Puasa
Secara umum, olahraga saat puasa tetap memberikan manfaat jika dilakukan dengan pendekatan yang realistis dan terukur. Pilih waktu yang tepat, seperti menjelang berbuka atau setelah tarawih, serta perhatikan asupan cairan dan nutrisi saat sahur dan berbuka.
Yang terpenting, dengarkan sinyal tubuh. Jika muncul pusing, lemas berlebihan, atau jantung berdebar tidak normal, segera hentikan aktivitas.
Dengan penyesuaian yang tepat, kebugaran tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
