Jagat maya dihebohkan oleh kabar yang menyebut pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka serius setelah serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Informasi mengenai kondisi Mojtaba Khamenei langsung menjadi sorotan publik internasional di tengah meningkatnya konflik militer antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel di kawasan Timur Tengah.
Pihak Pemerintah Iran Sebut Kondisi Aman
Menanggapi kabar tersebut, putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Yousef Pezeshkian, memberikan klarifikasi mengenai kondisi Mojtaba Khamenei. Ia menegaskan bahwa pemimpin baru Iran itu dalam keadaan baik dan tidak berada dalam kondisi yang membahayakan.
Yousef, yang juga menjabat sebagai penasihat pemerintah Iran, mengatakan dirinya telah mencari informasi langsung dari sejumlah pihak yang memiliki akses ke lingkaran internal pemerintahan.
“Saya mendengar berita bahwa Tuan Mojtaba Khamenei telah terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa teman yang memiliki koneksi. Mereka memberi tahu saya bahwa, alhamdulillah, dia dalam keadaan aman dan sehat,” ujarnya melalui kanal Telegram resminya, Rabu (11/3/2026).
Media Iran Beri Sinyal Berbeda
Meski pihak keluarga presiden memberikan bantahan, media pemerintah Iran sempat memunculkan spekulasi baru terkait kondisi Mojtaba Khamenei. Televisi negara Iran menyebutnya sebagai “veteran perang Ramadan yang terluka”.
Namun hingga kini, pihak otoritas Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai jenis cedera ataupun kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei setelah serangan tersebut.
Laporan Media Barat Sebut Terkena Dampak Ledakan
Sementara itu, sejumlah media Barat melaporkan informasi yang lebih spesifik. Berdasarkan laporan intelijen yang beredar, Mojtaba Khamenei diduga mengalami cedera pada bagian kaki saat berada di lokasi yang sama dengan ayahnya pada hari pertama serangan udara.
Laporan menyebut ledakan yang terjadi pada 28 Februari menyebabkan korban jiwa, termasuk Ayatollah Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan tersebut.
Konflik AS–Israel dan Iran Semakin Memanas
Ketegangan antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel sebenarnya telah berlangsung lama, terutama terkait program nuklir Teheran serta pengaruh milisi pro-Iran di berbagai negara Timur Tengah.
Situasi memanas setelah rangkaian serangan balasan yang melibatkan kelompok proksi di kawasan tersebut. Eskalasi konflik akhirnya memicu operasi militer langsung yang menargetkan pusat pertahanan Iran.
Serangan terhadap tokoh penting seperti keluarga Khamenei dipandang sebagai upaya melemahkan struktur kepemimpinan Iran. Di sisi lain, pemerintah Teheran menegaskan akan terus melawan apa yang mereka sebut sebagai bentuk agresi Barat.
Konflik yang berkembang menjadi perang terbuka ini juga menimbulkan kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu stabilitas energi dunia serta keamanan internasional.
