Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian serangan menghantam fasilitas milik Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad. Dalam satu malam, sedikitnya delapan serangan dilaporkan menargetkan pusat diplomatik dan logistik AS yang berada di kawasan tersebut.
Menurut laporan AFP pada Minggu (22/3/2026), serangan dilakukan secara bertahap sejak Sabtu malam hingga menjelang subuh. Sumber keamanan Irak menyebutkan bahwa serangan tersebut melibatkan kombinasi roket dan drone, dengan beberapa proyektil jatuh di sekitar area pangkalan.
Seorang pejabat keamanan senior mengungkapkan bahwa total ada delapan serangan terpisah yang dilancarkan ke fasilitas AS. Sementara itu, sumber lain menyebutkan jumlah serangan sedikit lebih rendah, yakni enam kali, namun tetap menunjukkan eskalasi signifikan dalam waktu singkat.
Fasilitas yang menjadi target berada di kompleks bandara internasional di Baghdad, yang selama ini dikenal sebagai pusat operasional penting bagi aktivitas diplomatik dan logistik Amerika Serikat di Irak.
Sejak pecahnya konflik regional pada akhir Februari 2026, kawasan ini memang kerap menjadi sasaran serangan dari kelompok bersenjata. Kelompok-kelompok pro-Iran diketahui sering mengklaim bertanggung jawab atas aksi-aksi tersebut, yang menargetkan kepentingan AS di Irak maupun wilayah Timur Tengah lainnya.
Salah satu kelompok yang menamakan diri Perlawanan Islam di Irak bahkan mengklaim telah melancarkan total 21 serangan dalam kurun 24 jam terakhir. Serangan tersebut disebut ditujukan ke berbagai “pangkalan penjajah” di kawasan tersebut.
Kelompok ini juga kembali menegaskan tuntutan mereka agar pasukan Amerika Serikat segera ditarik dari Irak. Isu kehadiran militer AS memang telah lama menjadi sumber ketegangan di negara tersebut.
Di sisi lain, Kedutaan Besar AS di Baghdad dilaporkan tidak menjadi target serangan untuk malam keempat berturut-turut. Hal ini terjadi setelah kelompok bersenjata Kataib Hizbullah sebelumnya menyatakan komitmen untuk menghentikan serangan sementara selama lima hari, dengan sejumlah syarat.
Meski demikian, situasi tetap dianggap rawan. Pihak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memastikan bahwa misi diplomatik mereka di Irak masih beroperasi, meskipun dalam kondisi siaga tinggi.
Mereka juga menegaskan bahwa berbagai langkah keamanan terus dievaluasi guna melindungi personel serta fasilitas pemerintah AS di kawasan tersebut.
Rangkaian serangan ini semakin mempertegas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sekaligus memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat.
