Notification

×

Iklan

Iklan

Mimpi Punya Anak di Luar Angkasa Terancam? Studi Ungkap Sperma Bisa ‘Kehilangan Arah’

Maret 27, 2026 Last Updated 2026-03-27T13:58:56Z


Ambisi manusia untuk membangun koloni di luar Bumi kembali menghadapi tantangan baru. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa proses reproduksi di luar angkasa kemungkinan tidak semudah yang dibayangkan, terutama karena perilaku sperma yang berubah dalam kondisi tanpa gravitasi.


Penelitian ini dilakukan oleh Nicole McPherson dari University of Adelaide. Ia meneliti bagaimana sperma bergerak dalam kondisi yang menyerupai gravitasi mikro menggunakan alat bernama clinostat 3D, yaitu mesin yang memutar objek secara konstan untuk mensimulasikan kondisi luar angkasa.


Dalam eksperimennya, McPherson menguji sperma manusia, tikus, dan babi. Hasilnya cukup mengejutkan: meski sperma masih mampu bergerak atau memiliki motilitas normal, kemampuan mereka untuk “menemukan jalan” menuju sel telur justru menurun drastis dalam kondisi tanpa arah gravitasi yang jelas.


Penelitian ini menunjukkan bahwa gravitasi memiliki peran penting dalam membantu sperma menavigasi jalur kompleks seperti saluran reproduksi. Tanpa adanya petunjuk arah yang stabil, sperma cenderung “kebingungan” dan kesulitan mencapai tujuan.


Menariknya, para peneliti menemukan bahwa hormon progesteron dapat membantu mengarahkan pergerakan sperma. Selain itu, teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung juga dinilai bisa menjadi solusi alternatif untuk mendukung reproduksi di luar angkasa.


Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Dalam uji coba pada tikus, tingkat keberhasilan pembuahan turun hingga 30 persen dalam kondisi gravitasi mikro. Bahkan, perkembangan embrio awal juga menunjukkan hambatan, termasuk berkurangnya jumlah sel yang dapat berkembang menjadi janin.


Pada percobaan lain, embrio babi juga lebih sering gagal berkembang ketika pembuahan terjadi dalam kondisi serupa. Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa reproduksi di luar angkasa memiliki risiko besar.


Implikasi dari penelitian ini cukup serius. Jika manusia suatu hari berhasil membangun koloni di Bulan atau Mars, peluang untuk berkembang biak secara alami kemungkinan akan sangat terbatas.


Ke depan, para peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh penurunan gravitasi terhadap proses reproduksi, termasuk batas minimum gravitasi yang masih memungkinkan terjadinya pembuahan secara normal.


Temuan ini menjadi pengingat bahwa eksplorasi luar angkasa bukan hanya soal teknologi dan perjalanan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup manusia dalam jangka panjang.