Menjalani puasa Ramadan sering kali menjadi tantangan bagi penderita asam lambung, termasuk gastroesophageal reflux disease (GERD). Banyak yang khawatir telat makan bisa memicu nyeri ulu hati, mual, hingga sensasi terbakar di dada.
Namun di sisi lain, muncul anggapan bahwa puasa justru bisa membantu menyembuhkan GERD. Lalu, mana yang benar? Mitos atau fakta?
Penjelasan Dokter soal Puasa dan GERD
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Aru Ariadno, menjelaskan bahwa puasa Ramadan pada dasarnya dapat membantu memperbaiki kondisi gangguan asam lambung, terutama yang berkaitan dengan faktor psikologis.
Menurutnya, sebagian besar gangguan asam lambung bersifat fungsional atau tidak ditemukan kelainan organik yang jelas. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan stres dan gangguan pikiran.
“Sebagian besar penyebab gangguan asam adalah gangguan pikiran atau dispepsia fungsional. Tidak ditemukannya adanya kelainan organik,” jelasnya dalam wawancara sebelumnya.
Puasa, lanjutnya, melatih pengendalian diri dan pikiran, yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi keluhan asam lambung. Dengan pola yang tepat, gejala bahkan bisa berkurang signifikan.
Bolehkah Penderita GERD Berpuasa?
Secara umum, penderita GERD tetap dianjurkan berpuasa, selama kondisinya terkontrol dan tidak dalam fase berat. Namun, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah penting sebelum memulai ibadah puasa.
Pada kasus tertentu seperti ulkus gaster berat atau komplikasi serius, pasien mungkin tidak disarankan berpuasa. Keputusan ini harus berdasarkan evaluasi medis.
Pola Makan Ideal Saat Sahur dan Berbuka
Agar puasa tetap nyaman, pengaturan pola makan menjadi kunci utama. Berikut beberapa panduan yang disarankan:
Saat Sahur:
- Pilih makanan tinggi serat
- Cukup protein
- Hindari karbohidrat berlebihan
- Minum cukup air
- Hindari kopi dan makanan terlalu pedas
Saat Berbuka:
- Mulai dengan yang manis secukupnya, seperti kurma atau teh manis
- Jangan langsung makan besar
- Beri jeda sebelum makan utama
- Hindari “balas dendam” makan
Penderita GERD juga disarankan tidak langsung tidur setelah makan besar. Idealnya, beri jeda sekitar dua jam agar lambung tidak bekerja terlalu berat saat tubuh berbaring.
Makanan yang Perlu Dihindari Penderita GERD Saat Puasa
Berikut daftar makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari:
Makanan pedas
-
Makanan asam
-
Makanan bersantan
-
Kopi
-
Ketan
-
Tape
Minuman bersoda
Jadi, Mitos atau Fakta?
Puasa bukanlah “obat ajaib” yang langsung menyembuhkan GERD. Namun, dengan pengelolaan stres yang baik dan pola makan yang tepat, puasa bisa membantu mengurangi gejala pada banyak penderita.
Kuncinya ada pada kontrol diri, pemilihan makanan, dan konsultasi medis sebelum menjalani ibadah puasa. Dengan pendekatan yang benar, penderita GERD tetap bisa menjalankan Ramadan dengan nyaman dan aman.
