Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan serius kepada warga sipil. Iran menyerukan agar masyarakat menjauhi lokasi-lokasi yang menjadi tempat keberadaan pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Seruan ini disampaikan pada Jumat (27/3/2026), di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Dalam pernyataannya, IRGC menuduh pasukan AS dan Israel menggunakan warga sipil sebagai “perisai manusia” dengan menempatkan diri di area sipil.
Melalui situs resminya, Sepah News, IRGC meminta masyarakat untuk segera meninggalkan area yang berdekatan dengan keberadaan militer AS guna menghindari risiko menjadi korban konflik.
Peringatan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah militer Iran mengancam akan menargetkan fasilitas sipil tertentu, termasuk hotel yang diduga digunakan oleh pasukan AS. Juru bicara militer Iran, Abolfazl Shekarchi, menyatakan bahwa lokasi yang ditempati pasukan Amerika akan dianggap sebagai target militer sah.
Menurutnya, jika pasukan AS menggunakan hotel sebagai tempat tinggal atau operasi, maka lokasi tersebut otomatis masuk dalam kategori target serangan. Pernyataan ini mempertegas potensi meluasnya konflik ke area yang sebelumnya dianggap aman bagi warga sipil.
Situasi ini merupakan lanjutan dari konflik yang meletus sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu eskalasi besar di kawasan. Sejak saat itu, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke berbagai target yang terkait dengan kedua negara tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menuduh pasukan AS memanfaatkan fasilitas sipil di negara-negara Teluk sebagai tempat berlindung. Ia bahkan meminta hotel-hotel di kawasan tersebut untuk menolak tamu dari militer Amerika.
Laporan dari media Iran menyebutkan bahwa peringatan juga telah dikirimkan ke sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain. Selain itu, militer Iran dikabarkan telah mengidentifikasi keberadaan pasukan AS di beberapa negara lain seperti Suriah, Lebanon, dan Djibouti.
Dengan situasi yang semakin memanas, warga sipil di kawasan Timur Tengah kini dihadapkan pada risiko yang lebih besar. Seruan Iran ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik berpotensi meluas dan menyasar lebih banyak lokasi strategis, termasuk area sipil.
