Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah membuka jalur negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah tegas oleh pihak Teheran.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut bahwa pembicaraan antara kedua negara berlangsung secara intens selama dua hari terakhir. Ia bahkan mengklaim diskusi berjalan “sangat baik dan produktif” serta berpotensi mengarah pada penyelesaian total konflik di kawasan.
Trump juga mengatakan bahwa berdasarkan perkembangan komunikasi tersebut, ia memutuskan menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Penundaan ini, menurutnya, dilakukan untuk memberi ruang bagi kelanjutan dialog yang tengah berlangsung.
Padahal sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang fasilitas vital Iran jika negara itu tidak membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Bahkan beberapa hari sebelumnya, ia menegaskan tidak tertarik pada opsi gencatan senjata.
Namun, klaim tersebut langsung ditepis oleh pemerintah Iran. Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, Iran menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.
Baghaei menjelaskan bahwa memang ada pesan yang disampaikan melalui negara ketiga, tetapi hal itu bukan bentuk perundingan resmi. Ia juga menegaskan bahwa Iran tetap pada prinsipnya dan memperingatkan adanya konsekuensi serius jika terjadi serangan terhadap infrastruktur vital negara.
Menurutnya, selama 24 hari terakhir sejak konflik pecah, tidak ada dialog atau negosiasi langsung yang dilakukan dengan Washington. Posisi Iran terkait konflik, termasuk soal Selat Hormuz, disebut tidak mengalami perubahan.
Di sisi lain, Trump mengaku tengah berkomunikasi dengan sosok penting dalam pemerintahan Iran, meski tidak menyebutkan identitasnya. Ia juga menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak melibatkan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Trump turut menyebut nama utusan khususnya seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner yang diklaim terlibat dalam komunikasi tersebut. Meski begitu, tidak ada konfirmasi dari pihak Iran terkait klaim ini.
Sementara itu, situasi di lapangan masih jauh dari mereda. Penasihat militer senior Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa konflik akan terus berlanjut hingga Iran mendapatkan kompensasi penuh atas kerusakan yang dialami.
Ia juga menekankan bahwa perang tidak akan berhenti sebelum sanksi ekonomi dicabut dan ada jaminan internasional yang mengikat untuk mencegah intervensi Amerika Serikat di masa depan. Dalam pernyataannya, Rezaei bahkan menuding Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang mendorong konflik terus berlanjut.
Dengan perbedaan klaim yang tajam antara Washington dan Teheran, peluang perdamaian dalam waktu dekat masih tampak sulit terwujud. Situasi ini pun membuat kawasan Timur Tengah tetap berada dalam bayang-bayang konflik yang berkepanjangan.
