Notification

×

Iklan

Iklan

Usai Longsor Maut di Bantargebang, Pramono Siapkan Jurus Baru Atasi Krisis Sampah Jakarta

Maret 10, 2026 Last Updated 2026-03-10T02:35:57Z

 

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah cepat untuk mengatasi dampak longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Kebijakan ini diambil setelah insiden longsor di zona 4A pada Minggu (8/3/2026) yang menewaskan tujuh orang.


Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa berbagai upaya mitigasi segera dilakukan agar pengelolaan sampah Jakarta tetap berjalan aman serta mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.


Operasional Dialihkan ke Zona Lain


Sebagai langkah awal, Pemprov DKI Jakarta memutuskan menutup sementara operasional di zona 4A yang terdampak longsor. Aktivitas bongkar muat sampah dari Jakarta kemudian dialihkan ke zona 3 di kawasan TPST Bantargebang.


“Sebagai langkah mitigasi, layanan di zona 4A ditutup sementara. Pengiriman sampah ke TPST Bantargebang diminimalkan dan operasionalnya dialihkan ke zona 3,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3/2026).


Selain memanfaatkan zona yang masih aktif, Pemprov DKI juga menyiapkan dua zona baru sementara untuk menampung sampah sambil menunggu penanganan di area longsor selesai.


Langkah ini penting mengingat setiap hari Jakarta mengirim sekitar 7.400 hingga 8.000 ton sampah ke Bantargebang.


Pemprov Dorong Pemilahan Sampah dari Sumber


Tidak hanya mengatur ulang operasional di Bantargebang, Pemprov DKI juga mulai mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya, seperti dari rumah tangga dan kawasan permukiman.


Menurut Pramono, kapasitas tampung TPST Bantargebang saat ini sudah sangat terbatas. Karena itu, pengurangan sampah yang dikirim ke lokasi tersebut menjadi langkah penting.


“Pasti ada dampaknya. Untuk itu kami akan melakukan proses pemilahan agar tidak semua sampah dikirimkan ke Bantargebang,” jelasnya.


Andalkan Fasilitas RDF Rorotan


Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga mengandalkan fasilitas pengolahan sampah RDF (Refuse Derived Fuel) di Rorotan, Jakarta Utara untuk membantu mengurangi beban pengiriman sampah.


Pramono menargetkan fasilitas tersebut dapat mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari. Jika target ini tercapai, maka pengiriman sampah dari Jakarta ke Bantargebang bisa berkurang secara signifikan.


“Kalau 1.000 ton bisa diolah di Rorotan, itu sudah sangat signifikan untuk mengurangi sampah yang dikirim ke Bantargebang,” kata Pramono.


Saat ini fasilitas RDF Rorotan masih berada dalam tahap commissioning atau uji coba sebelum beroperasi secara penuh. Namun, kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton per hari sudah dinilai mampu mengurangi beban Bantargebang hingga 1.000–1.500 ton sampah setiap hari.


Kurangi Ketergantungan pada Bantargebang


Melalui berbagai langkah tersebut, Pemprov DKI Jakarta berupaya mengurangi ketergantungan pada TPST Bantargebang. Salah satu strateginya adalah membangun fasilitas pengolahan sampah di dalam kota serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.


Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah Jakarta yang terus meningkat setiap tahunnya.