Serangan drone mengguncang Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (1/4/2026) waktu setempat. Insiden ini memicu kebakaran besar di area penyimpanan bahan bakar dan menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Otoritas penerbangan sipil Kuwait menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan tangki penyimpanan BBM yang kemudian terbakar hebat. Meski api sempat membesar, dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Juru bicara Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait, Abdullah Al-Rajhi, menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, termasuk kelompok bersenjata yang didukungnya.
“Bandara Internasional Kuwait menjadi sasaran serangan terang-terangan oleh drone,” ujarnya seperti dikutip media resmi setempat.
Serangan Meluas ke Negara Teluk
Tak hanya di Kuwait, insiden serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara kawasan Teluk. Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri melaporkan kebakaran di sebuah fasilitas bisnis yang diduga akibat serangan serupa.
Sementara itu, Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa drone sebelum mencapai target. Hal ini menunjukkan eskalasi ancaman udara di kawasan tersebut.
Di perairan dekat Doha, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut kapal mengalami kerusakan pada lambung, namun seluruh awak dilaporkan selamat dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.
Sebelumnya, insiden kebakaran juga terjadi pada kapal tanker minyak Kuwait di Pelabuhan Dubai, yang diduga terkait serangan serupa, meski tanpa korban jiwa.
Dipicu Konflik yang Lebih Besar
Rangkaian serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan sejak konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Sejak saat itu, Iran dilaporkan melancarkan berbagai serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel dan negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan yang dikenal sebagai pusat produksi energi dunia. Infrastruktur vital seperti bandara, fasilitas minyak, dan jalur pelayaran kini menjadi target berisiko tinggi.
Dengan eskalasi yang terus berlanjut, pengamat menilai konflik ini berpotensi meluas jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi internasional. (Rhz2797)
