Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Dalam serangan yang disebut sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam konflik terbaru, militer Israel mengklaim menghantam 100 target hanya dalam waktu 10 menit.
Menurut data awal otoritas Lebanon, serangan tersebut menewaskan sedikitnya 182 orang dan melukai sekitar 890 lainnya. Korban diperkirakan masih bisa bertambah seiring proses evakuasi dan pencarian di lokasi bangunan yang runtuh.
Ledakan besar dilaporkan mengguncang sejumlah wilayah di Beirut, termasuk kawasan pusat kota dan pinggiran selatan ibu kota. Serangan berlangsung tanpa peringatan evakuasi sebelumnya, memicu kepanikan warga yang berhamburan ke jalan saat ambulans berlalu-lalang menuju titik serangan.
Salah satu lokasi yang terdampak parah berada di kawasan Tallet El-Khayat, di mana sebuah bangunan dilaporkan roboh setelah dihantam serangan. Tim penyelamat terlihat berupaya mengevakuasi warga yang terjebak di reruntuhan.
Pemerintah Israel menyebut operasi militer tersebut menargetkan anggota dan infrastruktur Hizbullah di berbagai wilayah Lebanon. Serangan juga dilaporkan menyasar wilayah selatan, timur Lebanon, hingga kawasan pegunungan Aley.
Di tengah eskalasi ini, muncul kebingungan terkait status Lebanon dalam gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran. Iran mengklaim Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan, namun Israel menegaskan wilayah tersebut tidak masuk dalam perjanjian gencatan senjata.
Media Lebanon melaporkan dua jurnalis turut menjadi korban tewas dalam gelombang serangan terbaru tersebut. Selain itu, sejumlah jalur vital seperti jembatan penghubung menuju wilayah selatan juga ikut dihantam, memperburuk kondisi logistik dan evakuasi warga sipil.
Sejak konflik kembali memanas, otoritas Lebanon menyebut lebih dari 1.500 orang telah tewas dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan berulang.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras serangan Israel dan menyebut tindakan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang terus berlanjut meski ada tekanan internasional untuk meredakan konflik.
Sementara itu, Iran mendesak Amerika Serikat untuk menekan Israel agar menghentikan operasi militernya. Teheran menilai dunia kini menunggu langkah konkret Washington dalam menyikapi konflik yang terus memburuk.
Dengan serangan terbaru ini, kekhawatiran akan meluasnya perang regional di Timur Tengah kembali meningkat, terutama setelah upaya diplomatik internasional belum mampu menghentikan agresi di lapangan. (Rhz2797)
