Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran mengancam akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat menyusul serangan besar Israel ke Lebanon. Teheran menilai serangan tersebut melanggar syarat utama dalam kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya telah disepakati.
Peringatan keras itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (8/4/2026). Ia menegaskan bahwa Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau terus membiarkan perang berlanjut melalui dukungan terhadap Israel.
Menurut Araghchi, Amerika Serikat tidak bisa mengklaim mendukung perdamaian jika pada saat yang sama tetap membiarkan sekutunya melancarkan serangan militer di kawasan.
Di tengah memanasnya situasi, media Iran melaporkan bahwa Teheran kembali menutup Selat Hormuz setelah serangan Israel terhadap Lebanon yang menewaskan ratusan orang. Penutupan jalur strategis tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar global karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Militer Israel sebelumnya mengklaim telah menggempur lebih dari 100 target di Lebanon hanya dalam waktu 10 menit. Serangan itu disebut sebagai operasi terbesar Israel dalam fase terbaru konflik melawan Hizbullah.
Target serangan meliputi wilayah Beirut, Lembah Beqaa, hingga Lebanon selatan. Otoritas Lebanon menyebut serangan terbaru tersebut menewaskan sedikitnya 265 orang dan menyebabkan ratusan lainnya luka-luka.
Iran menilai tindakan Israel itu sebagai pelanggaran terhadap upaya deeskalasi regional yang tengah dibangun melalui mediasi internasional.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran setelah proses mediasi yang difasilitasi Pakistan. Dalam kesepakatan itu, Iran disebut mengajukan proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi lanjutan.
Pengumuman gencatan senjata tersebut disampaikan hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum Washington kepada Teheran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz berakhir.
Kini, dengan ancaman Iran untuk membatalkan kesepakatan dan penutupan kembali Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap pecahnya konflik regional yang lebih luas kembali meningkat.
Situasi terbaru ini membuat dunia internasional menyoroti langkah Washington berikutnya, apakah akan menekan Israel untuk menahan operasi militernya atau membiarkan ketegangan terus membesar di kawasan Timur Tengah. (Rhz2797)
