Berawal dari rasa penasaran terhadap kisah seorang penjual kue kering dengan omzet miliaran rupiah, seorang wanita asal Malaysia berhasil mengubah hidupnya lewat bisnis cookies rumahan. Kini, usahanya berkembang pesat dan mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah dalam musim tertentu.
Nurul Asyiqin Mohamad Ramli, warga Sabak Bernam, Selangor, Malaysia, dikenal sebagai pendiri Cocokins, sebuah merek kue kering yang kini semakin populer. Perjalanannya membangun bisnis ini dimulai dari rumah dengan cara sederhana, yakni menjual kue dan cookies dalam skala kecil.
Dilansir dari Malaysia Mail, Nurul awalnya hanya membuat berbagai jenis kue rumahan sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus pada bisnis cookies. Ia menghadirkan beragam varian rasa seperti chocolate chip, dark chocolate, red velvet, hingga pistachio yang menarik minat banyak pelanggan.
Keputusan besar itu muncul setelah ia membaca kisah inspiratif seorang penjual cookies yang mampu meraih omzet hingga RM 1,8 juta atau setara sekitar Rp7,9 miliar. Angka fantastis tersebut membuat Nurul berpikir bahwa bisnis kue kering memiliki potensi besar jika ditekuni secara serius.
Menurutnya, bayangan mendapatkan penghasilan sebesar itu hanya dari menjual cookies terasa sangat luar biasa. Dari situlah ia mulai mengubah arah usahanya dan menjadikan cookies sebagai produk utama dalam bisnisnya.
Di awal perjalanan, Nurul hanya memperoleh pendapatan sekitar RM 400 atau setara Rp1,8 juta per bulan. Dengan modal yang sangat terbatas, ia memproduksi cookies dari dapur rumah sambil perlahan membangun kepercayaan pelanggan.
Bantuan dana dari Majelis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) menjadi titik penting dalam perkembangan bisnisnya. Dana tersebut digunakannya untuk membeli peralatan produksi yang lebih memadai agar kualitas dan kapasitas produksinya meningkat.
Namun perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Saat pandemi COVID-19 melanda, usaha Nurul sempat mengalami penurunan drastis hingga menyebabkan kerugian besar. Meski begitu, ia memilih untuk bertahan dan terus mencari inovasi baru.
Salah satu strategi yang berhasil menarik perhatian pasar adalah menghadirkan cookies mini berbentuk kapsul dengan harga RM 7 atau sekitar Rp30 ribu. Konsep ini dinilai lebih terjangkau dan praktis bagi pelanggan yang ingin menikmati cookies dalam porsi kecil.
Nurul menjelaskan bahwa banyak orang tidak selalu ingin membeli satu stoples besar cookies yang harganya bisa mencapai RM 30 atau sekitar Rp130 ribu. Dengan harga tersebut, sebagian orang lebih memilih membeli makanan utama, sehingga kemasan kecil menjadi solusi yang lebih menarik.
Produk mini ini ternyata sangat diminati, terutama oleh anak-anak dan konsumen yang ingin membeli suvenir praktis. Bahkan, cookies kapsul tersebut sering dijadikan suvenir pernikahan dengan pesanan datang dari berbagai daerah seperti Johor dan Terengganu.
Kini, bisnis Cocokins mampu memproduksi ratusan kemasan cookies setiap bulan dan mencatat penjualan hingga puluhan ribu ringgit. Saat musim ramai seperti Lebaran, omzet usahanya bahkan bisa mencapai RM 100.000 atau setara sekitar Rp435 juta.
Ke depan, Nurul berencana untuk fokus mendapatkan sertifikasi halal serta memperkuat merek Cocokins agar semakin dikenal luas di Malaysia. Kisahnya menjadi bukti bahwa inspirasi sederhana bisa menjadi awal kesuksesan besar jika dijalani dengan konsisten dan penuh semangat.(Rhz2797)
