Keselamatan berlalu lintas bukan hanya soal mematuhi rambu atau aturan di jalan, tetapi juga tentang membangun budaya disiplin, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan.
Dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia, perempuan dinilai memiliki peran yang sangat penting, terutama sebagai pendidik pertama dalam keluarga.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, dalam kegiatan spesial Hari Kartini bertajuk Glow with Safety 2026 yang digelar untuk mendorong perempuan menjadi agen perubahan dalam budaya keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.
Menurut Aan, perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat yang terdampak kecelakaan, tetapi juga bisa menjadi solusi utama dalam menciptakan jalan yang lebih aman.
Budaya Tertib Lalu Lintas Dimulai dari Rumah
Aan menegaskan bahwa keselamatan berlalu lintas erat kaitannya dengan budaya suatu bangsa. Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap aturan dan keselamatan, maka semakin terlihat kualitas peradaban bangsa tersebut.
Menurutnya, orang yang beradab akan memahami pentingnya aturan, bukan sekadar karena takut sanksi, tetapi karena sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Dalam hal ini, perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pendidik pertama bagi anak-anak di rumah.
Nilai disiplin, empati, kepatuhan terhadap aturan, hingga kebiasaan sederhana seperti memakai helm atau menyeberang di tempat yang aman, semua berawal dari pendidikan keluarga.
Karena itu, budaya keselamatan lalu lintas sejatinya dibentuk sejak usia dini, bukan hanya saat seseorang sudah mulai mengendarai kendaraan.
Angka Kecelakaan Lalu Lintas Masih Tinggi
Masalah keselamatan di jalan raya masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data Korlantas Polri, jumlah kecelakaan lalu lintas terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak 2021 hingga 2025, tren kecelakaan terus naik dan pada tahun 2025 tercatat mencapai 158.508 kejadian.
Angka ini tidak hanya menunjukkan tingginya risiko di jalan, tetapi juga menjadi peringatan serius bagi seluruh masyarakat.
Setiap kecelakaan bukan hanya soal korban luka atau meninggal dunia, tetapi juga menyangkut masa depan keluarga yang ditinggalkan.
Banyak keluarga kehilangan tulang punggung ekonomi akibat kecelakaan, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan rumah tangga.
Menurut Aan, di Indonesia setiap satu jam terdapat sekitar dua hingga tiga orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Situasi ini menunjukkan bahwa keselamatan di jalan bukan masalah kecil, melainkan persoalan besar yang menentukan masa depan bangsa.
Generasi Muda Jadi Korban Terbanyak
Data Korlantas juga menunjukkan bahwa kelompok usia muda menjadi yang paling rentan mengalami kecelakaan lalu lintas.
Sebanyak 52 persen korban kecelakaan pada tahun 2025 berasal dari kelompok usia 15 hingga 24 tahun.
Artinya, generasi muda yang seharusnya menjadi harapan masa depan justru menjadi kelompok paling banyak kehilangan kesempatan akibat kecelakaan.
Selain itu, kendaraan roda dua atau sepeda motor masih mendominasi angka kecelakaan dengan kontribusi lebih dari 76 persen dari total kejadian.
Fakta ini menjadi alarm penting karena sebagian besar pengguna sepeda motor adalah pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.
Kurangnya disiplin, kebiasaan melanggar aturan, hingga minimnya kesadaran akan risiko menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan pada kelompok ini.
Peran Ibu Sangat Fundamental
Di tengah kondisi tersebut, Aan menilai peran ibu menjadi sangat fundamental dalam membentuk karakter anak.
Ibu tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga menjadi sosok yang paling dekat dalam membangun kebiasaan sehari-hari anak.
Mulai dari mengingatkan penggunaan helm, melarang berkendara ugal-ugalan, hingga memberi contoh tertib berlalu lintas, semua itu memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak di masa depan.
Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dari orang tua, terutama ibu.
Karena itu, perempuan memiliki kekuatan besar dalam membentuk generasi yang lebih sadar keselamatan.
Jika sejak kecil anak sudah dibiasakan disiplin di jalan, maka risiko kecelakaan saat dewasa dapat ditekan secara signifikan.
Perempuan Bisa Jadi Agen Edukasi Keselamatan
Selain di lingkungan keluarga, perempuan juga dinilai memiliki kekuatan besar melalui jaringan sosial yang dimiliki.
Komunitas ibu-ibu, lingkungan sekolah, organisasi sosial, hingga aktivitas sehari-hari menjadi ruang yang sangat efektif untuk menyebarkan edukasi keselamatan lalu lintas.
Perempuan dapat menjadi pengingat, pengawas, sekaligus contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya untuk anak sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
Melalui komunikasi yang kuat dan kedekatan sosial, perempuan bisa membantu menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya keselamatan di jalan.
Inilah alasan mengapa perempuan disebut bukan hanya bagian dari korban, tetapi juga bagian penting dari solusi.
Hari Kartini Jadi Momentum Perubahan
Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan hari ini tidak hanya soal kesetaraan, tetapi juga kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
Salah satunya adalah menciptakan budaya keselamatan berlalu lintas yang lebih baik.
Perempuan modern memiliki ruang yang lebih luas untuk berperan, termasuk dalam mengurangi angka kecelakaan di jalan raya.
Keselamatan lalu lintas bukan hanya urusan polisi atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama yang dimulai dari rumah.
Dan dalam rumah, perempuan memiliki peran yang sangat besar.
Jika budaya tertib berlalu lintas berhasil ditanamkan sejak dini, maka bukan hanya angka kecelakaan yang turun, tetapi masa depan bangsa juga akan lebih terjaga.
Karena pada akhirnya, keselamatan di jalan adalah investasi jangka panjang untuk keluarga, masyarakat, dan generasi mendatang.(Rhz2797)
