Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Raja E-Commerce, Kini Tokopedia Terpuruk? TikTok Shop Justru Melejit!

April 16, 2026 Last Updated 2026-04-16T03:56:01Z

Industri e-commerce Asia Tenggara terus menunjukkan pertumbuhan pesat, namun tidak semua pemain menikmati hasil yang sama. Laporan terbaru “Ecommerce in Southeast Asia 2026” dari Momentum Works mengungkap perubahan signifikan dalam peta persaingan platform digital di kawasan ini.


Sepanjang 2025, nilai pasar e-commerce Asia Tenggara mencapai sekitar US$157,6 miliar atau tumbuh 22,8% secara tahunan. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, Tokopedia justru berada di posisi paling bawah dibandingkan para pesaing utamanya.


Berdasarkan data Gross Merchandise Value (GMV), Tokopedia hanya mencatatkan nilai sekitar US$9 miliar. Angka ini jauh tertinggal dari Shopee yang masih memimpin dengan US$83,2 miliar, disusul TikTok Shop sebesar US$45,6 miliar, dan Lazada di kisaran US$18 miliar.


Menariknya, TikTok Shop justru tampil sebagai pemain dengan pertumbuhan paling agresif. Platform milik ByteDance ini berhasil mencatat lonjakan GMV lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.


Jika digabungkan dengan Tokopedia yang kini berada di bawah kendalinya, total GMV e-commerce TikTok di Asia Tenggara bahkan mencapai sekitar 65,7% dari capaian Shopee. Ini menunjukkan kekuatan integrasi antara media sosial dan platform belanja dalam menarik pengguna.


Akuisisi Tokopedia oleh ByteDance dari GoTo pada Desember 2023 menjadi titik balik penting. Setelah transaksi tersebut, TikTok menguasai 75,01% saham Tokopedia, sementara GoTo memegang sisanya sebesar 24,99%.


Sejak pengambilalihan itu, TikTok dan Tokopedia mulai mengintegrasikan operasional mereka. Bahkan, Indonesia disebut menjadi pasar e-commerce terbesar kedua bagi ByteDance setelah China dan Amerika Serikat.


Namun, di balik ekspansi tersebut, perusahaan juga melakukan langkah efisiensi. Pada pertengahan 2025, sekitar 420 karyawan dilaporkan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), yang mencakup berbagai divisi seperti IT, layanan pelanggan, hingga logistik.


Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi penguatan bisnis pascamerger sekaligus menghadapi persaingan ketat di pasar e-commerce nasional dan regional.


Sementara itu, Lazada memilih pendekatan berbeda dengan fokus pada produk bernilai tinggi. Strategi ini terbukti meningkatkan nilai rata-rata transaksi, terutama di pasar matang seperti Singapura, Thailand, dan Filipina.


Meski sempat beredar kabar bahwa TikTok akan menutup aplikasi Tokopedia, pihak perusahaan telah membantah rumor tersebut. Hingga kini, kedua platform masih terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi besar untuk menguasai pasar e-commerce Asia Tenggara.


Perubahan peta persaingan ini menjadi sinyal kuat bahwa industri e-commerce semakin dinamis, di mana inovasi dan strategi integrasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang.(Rhz2797)