Notification

×

Iklan

Iklan

Gen Z Paling Re ntan! Fenomena FOMO Makin Parah Setelah Pandemi Covid-19

April 21, 2026 Last Updated 2026-04-21T15:21:16Z


Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin menjadi sorotan setelah pandemi Covid-19, terutama di kalangan Generasi Z yang sangat aktif menggunakan media sosial. Kondisi ini muncul ketika seseorang merasa takut tertinggal tren, informasi terbaru, hingga momen yang sedang ramai diperbincangkan di dunia digital.


Awalnya, media sosial hadir sebagai sarana hiburan dan komunikasi. Namun, seiring meningkatnya intensitas penggunaan internet, platform digital justru menjadi pemicu munculnya rasa cemas, stres, hingga tekanan sosial. Banyak pengguna merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal oleh lingkungan sosialnya.


FOMO tidak hanya berdampak pada kebiasaan scrolling berlebihan, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Paparan gaya hidup yang tampak sempurna di media sosial membuat banyak orang, khususnya Gen Z, merasa hidup mereka kurang menarik atau belum cukup berhasil.


Tekanan sosial ini mendorong individu untuk terus tampil sesuai standar yang berkembang di ruang digital. Akibatnya, banyak orang kehilangan autentisitas diri karena lebih fokus mengikuti arus dibanding mengekspresikan diri secara alami sesuai kepribadian mereka.


Berdasarkan Journal of Behavioral Addictions, fenomena FOMO memiliki hubungan erat dengan meningkatnya penggunaan internet. Penelitian yang dilakukan oleh Akbari pada 2021 terhadap lebih dari 50.000 partisipan menunjukkan tingginya trafik digital yang berkaitan dengan munculnya FOMO.


Dari hasil survei tersebut, sekitar 58,37 persen partisipan merupakan perempuan. Temuan ini memperkuat bahwa FOMO semakin meningkat seiring dengan tingginya aktivitas internet, khususnya selama masa pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat lebih banyak berinteraksi secara online.


Meski pandemi telah berlalu, penggunaan internet tidak menunjukkan penurunan signifikan. Pada periode 2020 hingga 2023, generasi muda tercatat menjadi pengguna sekaligus kontributor utama dalam tingginya aktivitas digital, dengan dominasi kuat dari kelompok Gen Z.


Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z memiliki peran besar dalam membentuk budaya digital saat ini. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pembentuk tren, opini, hingga gaya hidup yang berkembang di media sosial.


Di tengah kondisi tersebut, mulai muncul kesadaran baru akan pentingnya menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan nyaman. Banyak anak muda kini mencari platform yang tidak hanya berorientasi pada tren, tetapi juga memberi ruang untuk koneksi yang lebih autentik dan minim tekanan sosial.


Konsep ruang digital yang tidak memaksa pengguna untuk selalu mengikuti arus menjadi kebutuhan baru. Dalam sistem ini, rekomendasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada algoritma, melainkan hadir dari sesama pengguna yang memiliki minat serupa.


Pendekatan ini dinilai lebih personal dan relevan karena mendorong interaksi yang lebih bermakna. Salah satu konsep yang mulai berkembang adalah social e-commerce, yaitu perpaduan antara aktivitas belanja online dengan interaksi sosial yang lebih sehat.


Social e-commerce tidak hanya fokus pada transaksi, tetapi juga membangun hubungan antar pengguna melalui pengalaman digital yang lebih manusiawi. Salah satu platform yang mengusung konsep ini adalah Pomogo Social E-commerce.


Pomogo menghadirkan ruang digital yang lebih autentik dan bebas tekanan, di mana pengguna bisa berekspresi sesuai minat dan preferensi masing-masing tanpa harus selalu mengikuti tren yang sedang viral.


“Jangan sampai dunia digital justru membuat kita merasa insecure. Ruang online seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi pengguna untuk berekspresi dan terhubung secara lebih autentik,” ujar Rajiv Fatih, Team Partnership dari Pomogo E-commerce.


Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di era digital, transformasi menuju ruang online yang lebih sehat diprediksi akan terus berkembang. Social e-commerce pun dinilai menjadi salah satu solusi untuk menciptakan keseimbangan antara interaksi sosial, ekspresi diri, dan kebutuhan pengguna modern. (Rhz2797)