Perusahaan minuman asal China, Mixue Group, mencatat penurunan jumlah gerai luar negeri sepanjang tahun 2025. Tercatat, sebanyak 428 outlet ditutup, termasuk di pasar besar seperti Indonesia dan Vietnam. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi efisiensi dan peningkatan kualitas operasional.
Meski terlihat seperti kemunduran, kebijakan tersebut justru menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat fondasi bisnis jangka panjang. Dalam laporan keuangan terbaru, Mixue menegaskan fokus mereka kini adalah mengoptimalkan kinerja gerai yang sudah ada agar lebih stabil dan berkelanjutan.
Di tengah penutupan gerai, Mixue tetap agresif melakukan ekspansi ke pasar baru. Perusahaan ini mulai merambah Amerika Serikat dan Kazakhstan, serta membuka gerai perdana di Malaysia dan Thailand melalui brand berbeda bernama Lucky Cup. Hingga akhir 2025, total gerai Mixue secara global mencapai 59.823 unit, dengan mayoritas masih berada di China.
Indonesia dan Vietnam sendiri tetap menjadi pasar internasional terbesar bagi Mixue. Di Vietnam, jumlah gerai bahkan sempat mencapai lebih dari 1.300 unit pada 2024. Di negara tersebut, Mixue mulai mengubah konsep toko dari ukuran kecil menjadi lebih besar dan modern, dengan lokasi strategis serta fasilitas yang lebih lengkap.
Sejak pertama kali masuk ke Vietnam pada 2018, Mixue dikenal dengan produk minuman murah seperti es krim, lemonade, milk tea, hingga fruit tea. Harga yang terjangkau menjadi kunci utama keberhasilan mereka, didukung oleh pengelolaan rantai pasok yang efisien dari hulu ke hilir.
Strategi waralaba agresif juga menjadikan Mixue sebagai salah satu pemain yang mengubah pasar minuman di Asia Tenggara. Bahkan, perusahaan ini disebut sebagai kekuatan utama dalam memperluas segmen minuman terjangkau di Vietnam.
Menariknya, di balik penutupan ratusan gerai, kinerja keuangan Mixue justru menunjukkan lonjakan signifikan. Pendapatan perusahaan naik 35 persen menjadi RMB 33,56 miliar atau sekitar USD 4,9 miliar sepanjang 2025. Laba bersih juga meningkat 33 persen menjadi RMB 5,93 miliar.
Namun, jumlah gerai luar negeri mengalami penurunan menjadi 4.467 unit dari sebelumnya 4.895 unit pada 2024. Saat ini, Mixue telah beroperasi di 13 negara dan memiliki jaringan logistik di delapan negara untuk mendukung distribusi.
Ke depan, Mixue menyatakan akan tetap memprioritaskan pasar Asia Tenggara. Meski demikian, strategi ekspansi global akan dilakukan lebih fleksibel dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, permintaan lokal, serta performa masing-masing gerai.
Dari sisi internal, perusahaan juga melakukan perombakan manajemen. Salah satu pendiri, Zhang Hongfu, kini menjabat sebagai co-chairman setelah melepas posisi CEO. Sementara itu, posisi CEO dipegang oleh Zhang Yuan.
Sebagian besar pendapatan Mixue masih berasal dari penjualan bahan baku dan peralatan kepada mitra waralaba. Nilainya mencapai RMB 32,77 miliar atau naik lebih dari 35 persen. Pendapatan dari layanan waralaba juga meningkat 28 persen menjadi RMB 790 juta.
Meski mencatat pertumbuhan kuat, tekanan mulai terlihat pada margin keuntungan. Margin kotor turun menjadi 29,9 persen dari sebelumnya 31,2 persen pada 2024. Hal ini dipicu oleh kenaikan biaya bahan baku serta perubahan komposisi pendapatan.
Dengan strategi efisiensi dan ekspansi yang lebih selektif, Mixue tampaknya tengah bersiap menghadapi persaingan global yang semakin ketat, tanpa kehilangan momentum pertumbuhan bisnisnya. (Rhz2797)
