Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali menjadi sorotan publik. Seorang dokter berinisial L yang bertugas di Klinik Pratama Universitas Riau (Unri) kini dinonaktifkan sementara setelah diduga melakukan tindakan tidak pantas terhadap puluhan mahasiswi.
Kepala Klinik Pratama Unri, dr. Yusdiana, membenarkan bahwa pihaknya telah mengambil langkah tegas sejak kasus ini mencuat pada 27 April 2026. Penonaktifan dilakukan hingga proses investigasi selesai, sekaligus untuk memastikan pelayanan tetap berjalan optimal.
Menurut Yusdiana, pihak klinik juga telah berkoordinasi dengan rektorat serta rumah sakit universitas guna menambah tenaga dokter. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas layanan kesehatan bagi mahasiswa tetap terjaga di tengah situasi yang berkembang.
Ia mengungkapkan bahwa selama ini sosok dokter yang bersangkutan dikenal memiliki hubungan baik dengan rekan kerja. Dalam aktivitas sehari-hari, tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat di lingkungan klinik.
“Secara keseharian, yang bersangkutan berperilaku normal, aktif dalam kegiatan, dan mampu beradaptasi dengan rekan kerja,” jelasnya.
Yusdiana juga mengaku baru mengetahui dugaan kasus tersebut pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, tidak pernah ada laporan resmi baik dari pasien maupun tenaga medis terkait dugaan tindakan pelecehan tersebut.
“Informasi baru kami terima Jumat pekan lalu. Sebelumnya tidak ada laporan masuk ke pihak klinik,” ujarnya.
Terkait prosedur pelayanan, ia menjelaskan bahwa pemeriksaan pasien umumnya dilakukan dengan pendampingan perawat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti lonjakan jumlah pasien, pendampingan tidak selalu bisa dilakukan secara maksimal karena tenaga medis harus membagi tugas untuk proses skrining awal.
Meski begitu, untuk tindakan medis tertentu yang membutuhkan pendampingan khusus, dokter biasanya akan meminta bantuan tenaga kesehatan lain yang sedang bertugas.
Di tengah mencuatnya kasus ini, pihak klinik memastikan bahwa layanan kesehatan tetap berjalan normal. Aktivitas pasien disebut tidak mengalami gangguan dan kunjungan ke klinik masih berlangsung seperti biasa.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius dan diharapkan dapat ditangani secara transparan serta memberikan rasa aman bagi seluruh mahasiswa di lingkungan kampus.(Rhz2797)
