Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Asal Pilih! Ini Standar Daycare Aman untuk Anak Menurut IDAI

April 30, 2026 Last Updated 2026-04-30T03:08:18Z

Kasus kekerasan terhadap anak di sejumlah daycare kembali memicu kekhawatiran publik. Menanggapi hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa daycare tidak boleh lagi dipandang sekadar tempat penitipan, melainkan lingkungan yang wajib menjamin keamanan, kenyamanan, dan tumbuh kembang anak.


Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, menyoroti penggunaan istilah “penitipan anak” yang dinilai kurang tepat. Ia menjelaskan bahwa secara makna, istilah tersebut lebih sering digunakan untuk benda, bukan manusia. Oleh karena itu, konsep daycare seharusnya dipahami sebagai bagian dari sistem pendidikan dan pengasuhan anak usia dini.


Fitri menekankan bahwa orang tua perlu lebih selektif dalam memilih daycare. Ada sejumlah standar penting yang harus diperhatikan agar anak mendapatkan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan optimal.


Pertama, aspek keamanan fisik menjadi hal paling mendasar. Lingkungan daycare harus dirancang ramah anak, mulai dari instalasi listrik yang aman hingga perabot dengan sudut yang tidak berbahaya. Keberadaan CCTV di berbagai sudut juga penting untuk memastikan transparansi dan pengawasan yang optimal. Selain itu, fasilitas seperti tangga berpagar, lantai empuk di area bermain, serta ruang yang minim risiko cedera wajib tersedia.


Kedua, kualitas pengasuh dan rasio anak harus menjadi perhatian utama. Pengasuh idealnya memiliki kompetensi, kesabaran, serta kemampuan komunikasi yang baik. IDAI merekomendasikan rasio pengasuh 1:3 untuk anak di bawah dua tahun, 1:5 untuk usia 2–3 tahun, dan 1:7 untuk usia 4–5 tahun. Latar belakang pendidikan seperti PAUD atau psikologi anak serta pemeriksaan latar belakang juga menjadi nilai tambah penting.


Ketiga, daycare yang baik harus menyediakan stimulasi perkembangan yang sesuai usia. Aktivitas harian seperti bermain, belajar, makan, dan tidur siang perlu terjadwal dengan jelas. Penggunaan mainan edukatif lebih dianjurkan dibandingkan ketergantungan pada gawai. Selain itu, komunikasi rutin antara pengasuh dan orang tua menjadi indikator kualitas layanan.


Keempat, aspek kesehatan dan gizi tidak boleh diabaikan. Anak harus mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang. Daycare juga wajib memiliki prosedur penanganan anak sakit, termasuk menyediakan ruang isolasi sementara agar tidak menulari anak lain. Pengasuh pun perlu memahami dasar kebersihan dan penanganan kondisi darurat ringan.


Kelima, legalitas dan administrasi menjadi indikator penting bahwa daycare tersebut berada dalam pengawasan resmi. Izin operasional dari instansi terkait harus jelas, disertai transparansi biaya, kebijakan operasional, serta sistem pengawasan yang bisa diakses orang tua.


Fitri menegaskan bahwa daycare merupakan bagian dari pendidikan anak usia dini, bukan sekadar tempat menitipkan anak. Dengan standar yang tepat, daycare diharapkan menjadi ruang yang aman, penuh kasih sayang, dan mampu mendukung perkembangan anak secara optimal. (Rhz2797)