Notification

×

Iklan

Iklan

Korban Terus Bertambah! Iran Sebut 3.400 Orang Tewas dalam Perang dengan AS-Israel

April 19, 2026 Last Updated 2026-04-19T05:00:18Z

Pemerintah Iran kembali memperbarui jumlah korban jiwa akibat konflik bersenjata dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah sejak akhir Februari 2026. Hingga kini, total korban tewas dilaporkan telah mencapai sekitar 3.400 orang.


Data terbaru tersebut disampaikan oleh Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran, lembaga resmi yang dikelola negara untuk menangani urusan korban perang dan veteran. Pengumuman ini muncul di tengah situasi gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu terakhir.


Dilansir dari AFP, Minggu (19/4/2026), Kepala Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran, Ahmad Mousavi, menyebut jumlah korban meninggal mencapai 3.468 orang.


Ia menyebut para korban sebagai “martir” yang gugur selama konflik terbaru antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.


Sebelumnya, laporan dari Kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran pada 12 April 2026 mencatat jumlah korban tewas berada di angka 3.375 orang. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan dalam beberapa hari terakhir.


Sementara itu, data dari Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat memberikan angka yang sedikit berbeda. Pada 7 April 2026, HRANA melaporkan sedikitnya 3.636 orang tewas akibat konflik tersebut.


Dari jumlah itu, sebanyak 1.701 korban disebut merupakan warga sipil, termasuk sedikitnya 254 anak-anak. Selain itu, terdapat 1.221 personel militer yang dilaporkan tewas, sementara 714 korban lainnya belum dapat diklasifikasikan statusnya.


Perbedaan angka ini terjadi karena keterbatasan akses informasi serta pembatasan pelaporan di wilayah konflik. AFP menyebut pihaknya tidak dapat mengakses langsung lokasi serangan maupun melakukan verifikasi independen terhadap jumlah korban di Iran.


Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memanas sejak Februari lalu telah menimbulkan dampak besar, tidak hanya pada sektor militer tetapi juga kehidupan warga sipil. Gencatan senjata yang saat ini berlangsung diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah. (Rhz2797)