Notification

×

Iklan

Iklan

Korban Tewas Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL Bekasi Bertambah, Evakuasi Dramatis Masih Berlangsung

April 28, 2026 Last Updated 2026-04-27T23:36:41Z



Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, terus bertambah. Hingga Selasa (28/4/2026), data sementara menunjukkan korban tewas mencapai lima orang.


Proses evakuasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan karena masih ada korban yang diduga terjebak di dalam rangkaian kereta yang ringsek. Petugas menghadapi tantangan besar lantaran kondisi gerbong saling menghimpit dan ruang evakuasi sangat terbatas.


Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan jumlah korban masih bisa berubah karena pencarian belum selesai sepenuhnya. Tim penyelamat masih terus menyisir seluruh bagian kereta untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal.


“Sementara ini korban ada lima. Dan tentunya proses evakuasi akan terus berjalan, jadi belum menjadi keputusan jumlah korban,” ujar Syafii kepada awak media, Selasa (28/4/2026).


Menurut Syafii, salah satu kendala terbesar dalam proses penyelamatan adalah material rangkaian kereta yang sangat kuat dan sulit dipisahkan. Petugas harus bekerja ekstra karena bagian logam yang saling menghimpit membutuhkan teknik khusus.


“Memang yang kami pisahkan ini merupakan logam-logam dengan kekuatan yang agak ekstra,” katanya.


Selain itu, keterbatasan ruang di dalam gerbong menjadi hambatan utama. Tim penyelamat kesulitan melakukan tindakan baik dari luar maupun dari dalam karena posisi korban yang terjepit di area sempit

.

“Yang menjadi permasalahan adalah space untuk kami melakukan tindakan. Jadi kami melakukan tindakan dari luar ternyata juga mengalami kesulitan tersendiri, kemudian dari dalam, itu juga terbatas,” jelasnya.


Basarnas memastikan proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak dilakukan pergeseran gerbong secara sembarangan. Hal ini karena masih ada korban yang diketahui dalam kondisi hidup dan masih bisa diajak berkomunikasi.


“Kereta api juga tidak akan melakukan pergeseran gerbong karena masih ada korban. Dan kami pastikan korban bisa diajak komunikasi dalam kondisi hidup,” ungkap Syafii.


Untuk mengeluarkan korban, tim menggunakan metode ekstrikasi dengan teknik pemotongan bertahap. Proses ini dilakukan perlahan agar tidak membahayakan korban yang masih terjepit.


Petugas melakukan pemotongan bagian logam, membuka ruang sempit secara bertahap, lalu mengangkat material yang menghimpit tubuh korban.


Syafii menegaskan bahwa proses penyelamatan dilakukan tanpa henti dengan sistem pergantian personel agar evakuasi tetap berjalan maksimal selama 24 jam.


Selain itu, pencarian menyeluruh juga dilakukan pada setiap gerbong guna memastikan seluruh korban telah ditemukan.


“Kami akan benar-benar searching seluruh gerbong sampai yakin bahwa seluruh korban benar-benar sudah tidak ada dalam kereta. Itu prosedurnya,” tegasnya.


Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana Stasiun Bekasi Timur dipenuhi ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, pemadam kebakaran, PMI, tenaga medis, hingga relawan.


Deretan ambulans juga terlihat siaga di sekitar lokasi untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat. Seluruh petugas terus berkoordinasi untuk mempercepat proses penyelamatan sambil menjaga keselamatan korban yang masih berada di dalam kereta.


Peristiwa ini diduga bermula dari sebuah taksi berwarna hijau yang tertabrak KRL di pelintasan kereta. Setelah rangkaian tersebut dievakuasi, insiden kedua terjadi saat KRL jurusan Jakarta–Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.


Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya melaju dan menabrak rangkaian KRL tersebut hingga menyebabkan kecelakaan besar yang menelan korban jiwa. (Rhz2797)