Kasus dugaan penganiayaan anak di tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha di kawasan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus menjadi sorotan publik. Fakta demi fakta mulai terungkap setelah polisi melakukan penggerebekan di lokasi tersebut pada Jumat (24/4/2026) usai menerima laporan masyarakat terkait dugaan kekerasan terhadap anak-anak yang dititipkan di sana.
Salah satu orang tua murid, Aldewa, membagikan kisah pilunya setelah mengetahui sang buah hati diduga menjadi korban perlakuan tidak manusiawi. Ia mengaku awalnya memilih daycare tersebut karena tergiur biaya penitipan yang terjangkau serta ulasan positif yang terlihat meyakinkan di Google Maps.
Menurut Aldewa, biaya penitipan sebesar Rp1 juta per bulan dianggap cukup murah untuk ukuran Kota Yogyakarta. Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan utama dirinya mempercayakan anaknya kepada daycare tersebut.
Ia juga mengaku semakin yakin setelah melihat sikap ramah dari pihak pengelola yayasan saat proses pendaftaran. Ketua yayasan yang dikenal dengan sebutan Miss D dinilai sangat sopan, lembut, dan memberikan kesan profesional sehingga membuat para orang tua merasa aman.
Namun, seiring berjalannya waktu, Aldewa mulai merasakan adanya kejanggalan. Anaknya yang kini berusia tiga tahun telah dititipkan selama kurang lebih satu setengah tahun. Selama itu, pihak daycare rutin mengirim laporan harian yang selalu menunjukkan kondisi normal, termasuk informasi bahwa sang anak selalu menghabiskan makanan.
Meski begitu, kondisi fisik anak justru tidak menunjukkan perkembangan yang sesuai. Berat badan sang anak disebut tidak bertambah selama tiga bulan terakhir, padahal laporan dari daycare selalu menyebutkan bekal dan makanan habis setiap hari.
Awalnya, Aldewa menganggap hal tersebut sebagai kondisi biasa. Namun setelah kasus ini mencuat, ia mulai menyadari bahwa laporan yang diberikan kemungkinan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Tak hanya soal pertumbuhan, ia juga menemukan luka lebam di paha kiri anaknya sekitar seminggu sebelum kasus ini ramai dibicarakan. Saat itu, ia mengira anaknya hanya terjatuh saat bermain karena tidak ada penjelasan khusus dari pihak pengasuh.
Kini, Aldewa menyesali keputusannya setelah mengingat perubahan perilaku sang anak yang sering menangis histeris setiap kali hendak diantar ke daycare. Anak tersebut bahkan berulang kali menolak pergi dan memohon agar tidak dibawa kembali ke tempat itu.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengungkapkan bahwa dari total 103 anak yang dititipkan, sebanyak 53 anak diduga menjadi korban kekerasan. Usia korban pun beragam, mulai dari bayi berusia 0 hingga 3 bulan hingga balita di bawah usia dua tahun.
Polisi menemukan dugaan perlakuan yang sangat memprihatinkan, termasuk adanya anak-anak yang kaki dan tangannya diikat. Beberapa korban juga dilaporkan mengalami luka fisik akibat perlakuan tersebut.
Saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan 30 orang untuk menjalani pemeriksaan intensif. Sebanyak 25 orang merupakan pengasuh daycare, sementara lima lainnya adalah Ketua Yayasan dan pihak struktural pengelola.
Polisi menduga praktik kekerasan ini telah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Kasus ini menjadi peringatan penting bagi para orang tua agar lebih teliti dalam memilih tempat penitipan anak, tidak hanya berdasarkan harga murah dan ulasan digital semata, tetapi juga memastikan keamanan dan kenyamanan anak secara langsung. (Rhz2797)
