Aksi besar peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 mengalami perubahan signifikan. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan bahwa rencana demonstrasi yang semula akan digelar di depan Gedung DPR RI kini dipindahkan ke kawasan Monas, Jakarta Pusat.
Perubahan lokasi ini bukan tanpa alasan. Said Iqbal menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk bertemu langsung dengan perwakilan buruh dan membuka ruang dialog terkait berbagai isu ketenagakerjaan.
Menurutnya, momentum May Day menjadi kesempatan penting bagi buruh untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada kepala negara. Dengan adanya komitmen dari Presiden, KSPI menilai bahwa dialog di Monas akan lebih efektif dibandingkan aksi demonstrasi di depan DPR.
Selain itu, terdapat sejumlah isu krusial yang ingin disampaikan dan diharapkan mendapat jawaban langsung dari Presiden. Dari total 11 tuntutan yang dibawa buruh, beberapa di antaranya dinilai sangat mendesak dan menyangkut kesejahteraan pekerja di Indonesia.
Said Iqbal juga memperkirakan jumlah massa yang akan hadir dalam aksi May Day di Monas mencapai ratusan ribu orang. Khusus dari KSPI, sekitar 50.000 buruh dipastikan akan datang dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Raya, hingga sebagian wilayah Cirebon.
Dalam aksi tersebut, buruh akan mengusung sejumlah tuntutan utama. Di antaranya adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru, penghapusan sistem outsourcing, penolakan upah murah, pengesahan RUU Perampasan Aset, reformasi perpajakan bagi buruh, serta peningkatan kesejahteraan bagi pengemudi ojek online dan guru honorer.
Perubahan lokasi aksi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk membuka komunikasi langsung antara pemerintah dan buruh, sekaligus menjadi harapan baru bagi penyelesaian berbagai persoalan ketenagakerjaan yang selama ini belum tuntas. (Rhz2797)
