Tren diet detoks terus populer di media sosial dengan berbagai metode, mulai dari konsumsi jus, teh herbal, hingga puasa dan pembatasan makanan tertentu. Banyak yang mengklaim pola ini mampu membuang racun, menurunkan berat badan, hingga “mereset” tubuh hanya dalam hitungan hari.
Namun, para ahli kesehatan menegaskan bahwa klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
Profesor gastroenterologi dan hepatologi dari Johns Hopkins University, Tinsay Woreta, mengatakan diet detoks banyak diminati karena menawarkan solusi instan bagi orang yang ingin cepat merasa lebih sehat. Padahal, menurutnya, detoks singkat selama beberapa hari tidak dapat menggantikan manfaat pola hidup sehat jangka panjang.
Tubuh Punya Sistem Detoks Alami
Woreta menjelaskan, tubuh manusia sebenarnya telah memiliki mekanisme alami untuk membersihkan zat-zat berbahaya tanpa perlu bantuan program diet khusus.
Paru-paru berfungsi menyaring zat dari udara yang dihirup, usus membantu membuang limbah dari makanan, sementara ginjal menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine.
Adapun organ yang memegang peran utama dalam proses detoksifikasi adalah hati. Organ ini bertugas memproses darah dari sistem pencernaan dan mengubah zat berbahaya, termasuk alkohol, menjadi limbah yang kemudian dikeluarkan tubuh.
Karena itu, pada orang yang memiliki fungsi organ normal dan pola makan seimbang, diet detoks dinilai tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan.
Efek Diet Detoks Dinilai Sementara
Berbagai penelitian menunjukkan manfaat diet detoks cenderung terbatas. Penurunan berat badan yang terjadi biasanya hanya bersifat sementara karena peserta mengurangi asupan kalori secara drastis selama menjalani program.
Saat pola makan kembali normal, berat badan umumnya akan naik lagi. Dengan kata lain, diet detoks tidak benar-benar “membersihkan racun” seperti yang sering dipromosikan.
Ada Risiko Jika Dilakukan Berlebihan
Selain dinilai kurang efektif, diet detoks juga memiliki potensi risiko kesehatan bila dilakukan tanpa pengawasan.
Pola makan yang terlalu restriktif dapat memicu kebiasaan makan tidak sehat, terutama pada orang yang rentan mengalami gangguan pola makan. Diet berbasis jus juga kerap kekurangan protein, lemak sehat, dan serat yang dibutuhkan tubuh.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan gula darah, ketidakseimbangan elektrolit, hingga gejala seperti pusing, lemas, dan sakit kepala. Pada orang dengan penyakit tertentu, risikonya bahkan bisa lebih serius.
Kenapa Banyak Orang Merasa Lebih Sehat?
Menurut para ahli, sensasi tubuh terasa lebih ringan setelah diet detoks biasanya bukan karena racun keluar dari tubuh. Efek tersebut lebih mungkin terjadi karena seseorang mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan alkohol selama menjalani program.
Meski demikian, manfaat tersebut umumnya hanya berlangsung sementara.
Cara Sehat yang Lebih Direkomendasikan
Daripada mengandalkan diet instan, ahli menyarankan masyarakat fokus pada pola makan seimbang dan gaya hidup aktif untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Pola makan kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak dinilai jauh lebih efektif untuk mendukung fungsi organ tubuh. Aktivitas fisik rutin serta membatasi konsumsi alkohol juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan metabolik.
Pada akhirnya, menjaga kebiasaan sehat secara konsisten tetap menjadi cara terbaik untuk membantu tubuh bekerja optimal—termasuk dalam proses detoksifikasi alaminya. (Rhz2797)
