Amerika Serikat resmi menyatakan operasi militer bernama Epic Fury terhadap Iran telah selesai. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di tengah masih memanasnya hubungan Washington dan Teheran pasca-gencatan senjata.
Rubio menegaskan operasi ofensif tersebut sudah berakhir dan kini AS tidak lagi menjalankan serangan aktif terhadap Iran. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa waktu setempat.
“Operasi telah berakhir — Epic Fury — seperti yang telah diberitahukan presiden kepada Kongres. Tahap itu sudah selesai,” ujar Rubio seperti dikutip dari AFP.
Pemerintah AS sebelumnya juga telah memberi tahu Kongres bahwa konflik dengan Iran dianggap selesai setelah adanya gencatan senjata. Langkah ini dinilai penting agar pemerintah tidak perlu meminta persetujuan resmi Kongres untuk perang yang berlangsung lebih dari 60 hari.
Rubio menekankan bahwa langkah militer Amerika saat ini bersifat defensif. Menurutnya, AS hanya akan merespons jika lebih dulu diserang.
Ia juga mengklaim tujuan utama operasi telah tercapai. Pemerintah AS menyebut tekanan ekonomi besar terhadap Iran menjadi salah satu hasil utama dari operasi tersebut.
Trump Sebut Konflik dengan Iran “Perang Kecil”
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mencoba mengecilkan skala konflik yang terjadi. Dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump menyebut perang melawan Iran hanya sebagai “pertempuran kecil”.
Menurut Trump, Iran sejak awal tidak memiliki peluang untuk menang dalam konflik tersebut. Ia bahkan beberapa kali menggambarkan operasi militer AS sebagai keberhasilan besar.
Trump sebelumnya juga pernah menyebut konflik itu sebagai “perang mini” hingga “ekspedisi kecil”. Pernyataan tersebut dinilai sebagai upaya untuk meredam kritik publik dalam negeri yang menilai perang tersebut tidak populer di Amerika.
Meski begitu, Trump tetap menegaskan bahwa kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat operasi gabungan AS dan Israel.
Trump Kembali Ultimatum Iran
Walaupun operasi dinyatakan selesai, Trump tetap melontarkan ancaman keras kepada Iran. Lewat unggahan di Truth Social, ia mengatakan pengeboman bisa kembali dilakukan jika Iran tidak memenuhi kesepakatan yang diinginkan AS.
Trump menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya apabila Iran menyetujui syarat yang telah dibahas sebelumnya. Namun jika negosiasi gagal, ia mengancam serangan dengan intensitas lebih besar.
“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya,” tulis Trump.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan antara AS dan Iran masih jauh dari kata selesai, meski operasi Epic Fury secara resmi telah dihentikan.
Awal Konflik AS dan Iran
Konflik memanas sejak 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran. Serangan tersebut disebut menghancurkan fasilitas militer dan ekonomi penting serta menewaskan sejumlah petinggi.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke beberapa wilayah. Situasi itu membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam tekanan geopolitik tinggi.
Pada 8 April lalu, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran yang kemudian diperpanjang. Namun hingga kini, negosiasi antara Washington dan Teheran dilaporkan masih menemui jalan buntu. (Rhz2797).
