Notification

×

Iklan

Iklan

Fakta Baru Tabrakan Argo Bromo dan KRL Terungkap, KNKT Bantah Isu Taksi Hijau Jadi Penyebab

Mei 21, 2026 Last Updated 2026-05-21T11:19:07Z

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akhirnya membeberkan hasil sementara investigasi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan–Cikarang yang terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu.


Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026), Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa insiden tersebut tidak disebabkan oleh keberadaan taksi hijau atau temperan taksi Green SM seperti yang sempat ramai diperbincangkan publik.


Menurut KNKT, terdapat tiga faktor utama yang diduga menjadi penyebab kecelakaan kereta tersebut. Ketiga faktor itu meliputi anomali sistem persinyalan, gangguan komunikasi radio, serta ketidakdisiplinan dalam pengaturan jalur perjalanan kereta api.


Soerjanto menjelaskan bahwa hasil simulasi investigasi menunjukkan adanya masalah pada sistem sinyal antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi normal, sinyal keluar stasiun seharusnya menunjukkan lampu kuning sebagai tanda hati-hati apabila sinyal berikutnya masih merah.


Namun dalam kejadian tersebut, sinyal keluar Stasiun Bekasi justru menunjukkan lampu hijau atau aspek aman, meskipun di jalur berikutnya terdapat kereta lain yang masih berada di lintasan.


KNKT menemukan bahwa sistem persinyalan gagal mendeteksi keberadaan KA 5568A yang sedang berhenti normal di Stasiun Bekasi Timur. Kondisi inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu utama tabrakan.


Selain masalah sinyal, KNKT juga menyoroti kondisi lingkungan di sekitar rel yang dinilai mengganggu jarak pandang masinis. Saat simulasi dilakukan langsung dari dalam kabin lokomotif pada malam hari, tim investigasi menemukan cahaya dari rumah warga, pasar, dan lampu jalan memiliki warna serta intensitas yang menyerupai lampu sinyal kereta.


Akibatnya, masinis mengalami kesulitan membedakan sinyal pengulang yang berada di jalur antara Stasiun Bekasi dan Bekasi Timur.


Tak hanya itu, investigasi sementara juga mengungkap adanya kendala komunikasi radio antarpetugas dan masinis. Masing-masing kereta menggunakan perangkat radio berbeda dengan wilayah komunikasi yang tidak sepenuhnya sama.


KA 5181 diketahui menggunakan radio Tait di wilayah komunikasi S.27, sementara KA 5568A memakai radio Sepura di area yang sama. Sedangkan KA Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dengan wilayah komunikasi berbeda, yakni S.1 PK Timur.


Perbedaan perangkat dan area komunikasi tersebut diduga ikut memengaruhi kelancaran koordinasi saat situasi darurat berlangsung.


KNKT menyimpulkan sementara bahwa kecelakaan di Bekasi Timur dipicu kombinasi beberapa faktor sekaligus, mulai dari anomali persinyalan, hambatan visual akibat cahaya sekitar rel, hingga gangguan komunikasi radio antara masinis dan petugas pengatur perjalanan kereta.


Hingga kini, proses investigasi masih terus berjalan untuk memastikan penyebab utama kecelakaan serta mengevaluasi sistem keselamatan operasional perkeretaapian agar kejadian serupa tidak kembali terulang.(Rhz2797)