Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, akhirnya menemukan titik terang. Investigasi terbaru mengungkap bahwa makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga kuat mengandung zat berbahaya serta terkontaminasi bakteri.
Peristiwa yang terjadi pada 15 April 2026 ini menyebabkan sedikitnya 162 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan. Temuan tersebut diperoleh setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan oleh pihak terkait.
Ketua Tim Investigasi Badan Gizi Nasional (BGN), Arie Karimah Muhammad, menjelaskan bahwa hasil tersebut didapat dari dua tahap pengujian. Pemeriksaan awal dilakukan melalui rapid test oleh Dinas Kesehatan setempat, kemudian dilanjutkan dengan uji laboratorium oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Dari hasil uji cepat, ditemukan kandungan boraks pada beberapa menu makanan seperti telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran. Kadar boraks yang terdeteksi berkisar antara 100 hingga 5.000 mg/L, angka yang dinilai berbahaya bagi kesehatan.
Penggunaan boraks dalam makanan menjadi sorotan serius karena bahan tersebut tidak seharusnya digunakan, terutama pada jenis makanan seperti telur, tempe, dan sayuran yang tidak memerlukan bahan pengawet kimia. Selain berbahaya, praktik ini juga melanggar standar keamanan pangan.
Tak hanya itu, hasil uji laboratorium juga mengungkap adanya kontaminasi bakteri berbahaya, yakni Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus. Kedua bakteri ini dikenal dapat menyebabkan gangguan pencernaan serius, terutama jika masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tidak higienis.
Menanggapi temuan ini, BGN langsung meningkatkan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Air Asuk. Operasional SPPG disebut hanya dapat dilanjutkan apabila seluruh standar keamanan dan kelayakan telah dipenuhi.
Koordinator BGN wilayah Kepulauan Anambas, Sahril, menegaskan bahwa salah satu syarat utama adalah pembaruan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Ia juga meminta pihak terkait untuk segera melakukan perbaikan sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, pemerintah daerah telah lebih dulu melakukan pengujian sampel makanan dan mengirimkannya ke BPOM Batam untuk analisis lanjutan. Hasilnya memperkuat temuan adanya boraks serta bakteri E. coli sebagai penyebab utama keracunan massal tersebut.
Kasus ini menjadi peringatan penting terkait pengawasan kualitas makanan dalam program pemerintah. Standar kebersihan, keamanan, dan kelayakan konsumsi harus menjadi prioritas utama demi melindungi kesehatan masyarakat, khususnya para pelajar. (Rhz2797)
