Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal yang melimpah dan berpotensi menjadi unggulan di pasar kesehatan global. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menilai sejumlah tanaman herbal asli Indonesia bahkan memiliki keunggulan yang mampu bersaing dengan ginseng yang selama ini identik dengan Korea Selatan.
Menurut Taruna, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya untuk pengembangan obat tradisional, herbal, hingga produk kesehatan berbasis bahan alami. Namun, potensi besar tersebut masih menghadapi tantangan dalam hal standardisasi, penelitian, serta pengelolaan yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa ginseng pada dasarnya merupakan tanaman yang dikenal karena berbagai manfaat kesehatannya, terutama dalam membantu meningkatkan sirkulasi darah. Meski demikian, Indonesia juga memiliki tanaman herbal dengan kandungan aktif yang tidak kalah menjanjikan.
Salah satu senyawa yang menjadi sorotan adalah kurkumin, yaitu zat aktif alami yang banyak ditemukan dalam kunyit dan temulawak. Kurkumin termasuk kelompok polifenol yang dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh.
Taruna menyebut kurkumin memiliki kemampuan sebagai antioksidan yang membantu melawan radikal bebas, sekaligus berpotensi sebagai antiinflamasi untuk mengurangi peradangan. Selain itu, senyawa ini juga memiliki efek vasodilator yang dapat membantu melancarkan aliran darah.
Menurutnya, dari sisi manfaat kesehatan, kurkumin memiliki spektrum potensi yang lebih luas dibandingkan manfaat utama yang selama ini dikenal dari ginseng. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu bersaing di pasar global karena belum dikelola dan dikembangkan secara optimal.
Ia menilai bahwa penguatan riset, pengembangan teknologi ekstraksi, hingga peningkatan kualitas standar produk herbal menjadi kunci agar tanaman obat asli Indonesia dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Selain kunyit dan temulawak, Taruna juga menyoroti berbagai bahan jamu tradisional lain yang telah lama digunakan masyarakat Indonesia. Jahe, kunyit, dan temulawak disebut memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh serta menjaga kebugaran.
Kandungan antioksidan dalam berbagai tanaman herbal tersebut diyakini mampu membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Karena itu, bahan-bahan alami tersebut kerap dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan dan penampilan agar tetap segar.
Tak hanya untuk konsumsi, pengembangan bahan herbal juga dinilai berpotensi besar untuk industri kosmetik dan perawatan kulit. Berbagai ekstrak tanaman lokal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kecantikan berbasis alami yang kini semakin diminati pasar.
Dengan dukungan riset dan inovasi yang lebih kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadikan produk herbal dan jamu tradisional sebagai komoditas unggulan yang mampu bersaing di tingkat internasional. Potensi besar dari kunyit, temulawak, hingga jahe menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan herbal dunia.(Rhz2797)
