Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Raup Jutaan Sehari, Kini Warteg Sepi Pembeli hingga Pedagang Mengeluh Berat

Juni 01, 2026 Last Updated 2026-06-01T04:50:42Z

Pelaku usaha warung tegal (warteg) di Jakarta tengah menghadapi tantangan berat di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan tingginya harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut membuat banyak pedagang mengaku kesulitan mempertahankan pendapatan yang sebelumnya menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Sejumlah pedagang warteg di kawasan Senen, Jakarta Pusat, mengungkapkan bahwa situasi usaha mereka pada 2026 terasa jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Penurunan jumlah pelanggan membuat omzet harian merosot tajam, sementara biaya operasional terus mengalami kenaikan.


Salah satu pedagang, Amirah, mengaku kondisi warteg saat ini sangat berbeda dibandingkan masa-masa ketika pelanggan masih ramai. Menurutnya, banyak konsumen kini lebih selektif dalam membeli makanan dan cenderung mengurangi konsumsi lauk dengan harga lebih mahal seperti daging sapi, cumi, maupun udang.


Perubahan pola belanja tersebut berdampak langsung pada pendapatan pedagang. Jika sebelumnya warteg mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap hari, kini pemasukan yang diperoleh jauh lebih rendah. Bahkan untuk mencapai omzet harian yang dulu dianggap biasa, pedagang harus bekerja lebih keras dengan jumlah pelanggan yang semakin terbatas.


Tidak hanya menghadapi penurunan penjualan, para pemilik warteg juga dibebani kenaikan harga berbagai bahan baku makanan. Harga minyak goreng, cabai, hingga kebutuhan pendukung usaha seperti plastik kemasan mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.


Kondisi serupa juga dirasakan Surono, pedagang warteg lainnya. Ia memperkirakan omzet usahanya turun sekitar 35 persen dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, penurunan daya beli masyarakat membuat menu berbahan daging sapi semakin jarang diminati sehingga ia mengurangi penyediaan lauk tersebut untuk menghindari kerugian.


Surono menilai tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara harga jual makanan dan biaya produksi. Di satu sisi, harga bahan baku terus naik, namun di sisi lain pedagang tidak bisa serta-merta menaikkan harga karena khawatir pelanggan semakin berkurang.


Para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk membantu usaha kecil seperti warteg, terutama melalui upaya menjaga stabilitas harga pangan. Mereka menilai harga kebutuhan pokok yang lebih terkendali akan membantu menekan biaya produksi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.


Warteg selama ini dikenal sebagai salah satu pilihan makanan terjangkau bagi masyarakat perkotaan. Namun di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga bahan pangan, pelaku usaha sektor ini kini menghadapi tantangan besar untuk tetap bertahan dan mempertahankan pelanggan di tengah perubahan kondisi pasar.(Rhz2797)