Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional masih menghadapi tantangan, terutama untuk batu bara dengan kalori menengah sekitar 5.200 kcal/kg GAR. Kondisi tersebut berdampak pada Hari Operasi Pembangkit (HOP) milik PT PLN (Persero).
Meski demikian, Bahlil memastikan secara umum pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman. Pemerintah kini tengah menyiapkan berbagai langkah agar kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tetap terpenuhi tanpa membebani pelaku usaha maupun PLN.
Berikut enam fakta penting terkait kondisi pasokan batu bara nasional.
1. Bahlil Akui Pasokan Batu Bara Medium Kalori Masih Terbatas
Bahlil menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama persoalan ini adalah semakin menurunnya kualitas kalori batu bara yang diproduksi di dalam negeri. Batu bara dengan spesifikasi 5.200 kcal/kg GAR kini semakin sulit diperoleh dibandingkan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, pemerintah saat ini sedang mencari solusi agar kebutuhan pembangkit listrik tetap dapat dipenuhi tanpa mengganggu stabilitas pasokan nasional.
2. Cadangan Batu Bara Kalori Tinggi Sangat Terbatas
Kementerian ESDM mencatat cadangan batu bara nasional mencapai sekitar 31 miliar ton. Namun, hanya sebagian kecil yang memiliki kualitas kalori tinggi di atas 6.000 kcal/GAR.
Kondisi ini membuat pemerintah menilai ketergantungan industri terhadap batu bara berkalori tinggi perlu dikurangi. Diversifikasi sumber energi maupun penyesuaian spesifikasi bahan bakar menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan.
3. Harga DMO Dinilai Belum Sejalan dengan Biaya Produksi
Untuk kebutuhan pembangkit listrik domestik, harga batu bara masih mengikuti kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), yakni sebesar USD70 per ton.
Di sisi lain, perusahaan tambang menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya stripping ratio (SR) yang kini berada di kisaran 8 hingga 12 persen. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan produsen semakin tertekan.
4. Pengusaha Tambang Minta Penyesuaian Harga
Sejumlah pelaku usaha pertambangan mengeluhkan harga batu bara DMO yang belum mengalami perubahan sejak 2019, sementara biaya operasional terus meningkat.
Bahlil mengakui aspirasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan harga batu bara untuk pasar domestik agar tetap memberikan kepastian usaha bagi perusahaan tambang.
5. Pemerintah Kaji Skema Baru yang Lebih Berimbang
Kementerian ESDM saat ini sedang melakukan kajian menyeluruh terhadap mekanisme harga batu bara DMO.
Kajian tersebut bertujuan mencari titik tengah agar PT PLN tidak mengalami lonjakan biaya pembangkitan listrik, namun di saat yang sama perusahaan tambang juga tetap memperoleh keuntungan yang layak sehingga keberlangsungan bisnis tetap terjaga.
6. Kebutuhan Batu Bara PLN Capai 154 Juta Ton
Untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik sepanjang tahun 2026, PLN diperkirakan membutuhkan sekitar 154 juta ton batu bara.
Hingga saat ini, sebanyak 134 juta ton telah diamankan melalui kontrak jangka panjang. Artinya masih terdapat kekurangan sekitar 18 hingga 20 juta ton yang sedang dalam proses pemenuhan.
Meski masih ada selisih kebutuhan, Bahlil optimistis pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional secara keseluruhan tetap aman dan tidak akan mengganggu operasional PLN.
Pemerintah Berupaya Jaga Keseimbangan Pasokan dan Harga
Persoalan pasokan batu bara medium kalori menjadi tantangan baru bagi sektor ketenagalistrikan Indonesia. Selain menjaga ketersediaan bahan bakar untuk PLN, pemerintah juga harus memastikan kebijakan harga tetap memberikan ruang keuntungan bagi pelaku usaha pertambangan.
Melalui evaluasi skema DMO dan pengamanan kontrak pasokan batu bara, pemerintah berharap kebutuhan listrik nasional tetap terpenuhi sekaligus menjaga keberlanjutan industri pertambangan dalam negeri.(Rhz2797)
