Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Ungkap Alasan Tetap Percaya Diri

Juni 05, 2026 Last Updated 2026-06-05T00:24:48Z

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah Dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis Rp18.000. Meski kurs rupiah mengalami tekanan cukup besar, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang kuat dan terkendali.


Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir menghadapi pelemahan rupiah saat ini. Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan fondasi perekonomian Indonesia masih cukup solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga hingga tingkat inflasi yang relatif stabil.


"Pemerintah meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap berjalan dan inflasi yang masih terkendali," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026).


Prasetyo menambahkan, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi gejolak nilai tukar. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan koordinasi intensif untuk memantau perkembangan pasar keuangan sekaligus menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.


Faktor Global Jadi Pemicu Pelemahan Rupiah


Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang negara berkembang di kawasan juga mengalami pelemahan akibat meningkatnya ketidakpastian global.


Menurut Destry, salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah memanasnya kembali konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.


Situasi tersebut juga mendorong investor global mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga terjadi arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.


Permintaan Dolar Masih Tinggi di Dalam Negeri


Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan dolar AS di pasar domestik. Permintaan valuta asing meningkat seiring dengan aktivitas repatriasi dividen perusahaan serta pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.


Bank Indonesia mencatat kebutuhan dolar untuk kepentingan korporasi masih cukup besar dan menjadi salah satu faktor yang menjaga tingginya permintaan mata uang AS di dalam negeri.


Meski demikian, BI memastikan kondisi ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Cadangan devisa nasional tercatat mencapai sekitar US$146,2 miliar pada akhir April 2026, yang dinilai masih mampu mendukung stabilitas nilai tukar serta memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal negara.


Pemerintah Fokus Menjaga Stabilitas Ekonomi


Di tengah penguatan dolar AS yang terus berlanjut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan OJK akan terus diperkuat guna merespons dinamika pasar global sekaligus menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap perekonomian Indonesia.


Meski rupiah saat ini berada di bawah tekanan, pemerintah menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola karena didukung oleh fundamental ekonomi yang relatif kuat dibandingkan berbagai tantangan eksternal yang sedang berlangsung.(Rhz2797)