Notification

×

Iklan

Iklan

Terungkap Pesan Terakhir dr Icha ke Ahli Toksikologi: 'Saya Panik, Saya Dibentak-bentak'

Juni 29, 2026 Last Updated 2026-06-29T12:52:23Z


Kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha (27), dokter muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, seorang ahli toksikologi mengungkap percakapan terakhir yang dilakukan bersama dr. Icha beberapa hari sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi.


Dokter spesialis toksikologi ular berbisa, Dr. dr. Tri Maharani, mengaku menjadi salah satu dokter yang dihubungi dr. Icha saat menangani pasien korban gigitan ular di RS Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026.


Menurut Tri Maharani, saat itu dr. Icha menghubunginya beberapa kali dalam kondisi sangat panik dan ketakutan.


Mengaku Dibentak Saat Bertugas di IGD


Tri Maharani menceritakan bahwa selama konsultasi melalui sambungan telepon, dr. Icha mengaku mendapatkan perlakuan yang membuatnya tertekan ketika sedang menjalankan tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD).


Dalam percakapan tersebut, dr. Icha disebut menyampaikan bahwa dirinya dimarahi dengan nada tinggi serta diminta menyebutkan identitas lengkapnya oleh pihak keluarga pasien.


Kesaksian itu menjadi salah satu informasi yang kini ikut mendapat perhatian di tengah penyelidikan yang masih berlangsung.


Penanganan Medis Disebut Sudah Sesuai Prosedur


Sebagai dokter yang memberikan konsultasi terkait kasus gigitan ular, Tri Maharani menjelaskan bahwa berdasarkan informasi medis yang diterimanya, kondisi pasien saat itu masih tergolong stabil.


Hasil pemeriksaan laboratorium maupun kondisi fisik pasien disebut tidak menunjukkan indikasi yang mengharuskan pemberian antibisa ular. Penanganan yang dianjurkan adalah observasi dan tindakan imobilisasi sesuai prosedur medis.


Meski demikian, menurut Tri Maharani, keluarga pasien tetap meminta agar antibisa segera diberikan.


Ia mengatakan dr. Icha telah berusaha menjelaskan alasan medis tersebut, namun situasi di lapangan tetap berlangsung tegang.


Sempat Meminta Maaf karena Merasa Panik


Dalam komunikasi yang masih tersimpan, Tri Maharani mengungkap bahwa dr. Icha bahkan sempat meminta maaf kepadanya karena merasa panik menghadapi situasi tersebut.


Menurutnya, dr. Icha dikenal sebagai sosok dokter yang berdedikasi dan selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.


Tri Maharani juga menyatakan siap memberikan keterangan apabila sewaktu-waktu diminta oleh aparat penegak hukum. Ia mengaku masih menyimpan seluruh percakapan melalui aplikasi pesan singkat sebagai dokumentasi.


Berawal dari Penanganan Pasien Gigitan Ular


Insiden yang menjadi perhatian publik itu bermula ketika dr. Icha menangani seorang pasien anak korban gigitan ular hijau yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu ke RS Leona.


Saat proses penanganan berlangsung, dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) datang ke IGD karena pasien tersebut merupakan anggota keluarga mereka.


Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak keluarga dan sejumlah saksi, terjadi perdebatan dengan nada tinggi di ruang IGD. Sementara itu, pihak anggota DPRD sebelumnya telah membantah memiliki niat melakukan intimidasi terhadap tenaga medis.


Polisi Masih Mendalami Seluruh Fakta


Beberapa hari setelah insiden tersebut, dr. Icha menjalani perawatan akibat tekanan psikologis sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di kawasan Baumata, Kabupaten Kupang, pada Jumat (26/6/2026).


Kasus ini kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk tenaga kesehatan yang berada di lokasi saat kejadian.


Pihak keluarga berharap seluruh rangkaian peristiwa dapat diungkap secara transparan agar penyebab yang melatarbelakangi meninggalnya dr. Icha dapat diketahui secara jelas melalui proses hukum yang sedang berjalan.(Rhz2797)