Program bantuan becak listrik kembali menjadi perbincangan publik setelah muncul keluhan dari sejumlah warga terkait performa kendaraan yang diterima. Keluhan tersebut viral di media sosial dan memicu diskusi mengenai efektivitas serta ketahanan becak listrik yang telah didistribusikan kepada masyarakat.
Perhatian publik bermula dari unggahan seorang pengguna platform X yang menceritakan pengalaman keluarganya setelah menerima becak listrik bantuan yang menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto. Menurut pengakuannya, becak kayuh yang sebelumnya digunakan untuk mencari nafkah digantikan dengan kendaraan listrik yang dinilai memiliki sejumlah kendala saat digunakan di lapangan.
Dalam unggahannya, ia mengeluhkan daya tahan baterai becak listrik yang disebut cepat habis. Akibatnya, kendaraan tersebut tidak dapat digunakan untuk perjalanan jarak jauh sebagaimana yang diharapkan. Pengguna mengaku harus sering melakukan pengisian daya karena tenaga baterai berkurang dalam waktu relatif singkat.
Keluhan lain yang disampaikan adalah kondisi becak yang menjadi lebih berat ketika baterai kehabisan daya. Saat tenaga listrik tidak lagi tersedia, pengemudi harus mengayuh kendaraan secara manual dengan beban yang dinilai lebih berat dibandingkan becak konvensional.
Karena berbagai kendala tersebut, becak listrik yang diterima disebut kini lebih sering terparkir dan jarang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Warganet tersebut juga mengklaim bahwa beberapa penerima bantuan lain di wilayah sekitarnya mengalami masalah serupa, terutama terkait daya tahan baterai dan kenyamanan penggunaan.
Program bantuan becak listrik sendiri merupakan salah satu upaya modernisasi transportasi tradisional yang ditujukan untuk membantu para pengayuh becak. Hingga saat ini, ribuan unit telah disalurkan kepada penerima manfaat di berbagai daerah. Jumlah distribusi tersebut masih berpotensi bertambah seiring target penyaluran yang lebih luas.
Saat diperkenalkan kepada publik, becak listrik tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga sekitar 50 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Namun, sejumlah pengguna mengaku pengalaman penggunaan di lapangan tidak selalu sesuai dengan spesifikasi yang dipromosikan.
Viralnya keluhan ini memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian meminta evaluasi menyeluruh terhadap kualitas baterai dan komponen kendaraan, sementara yang lain menilai perlu adanya pendampingan teknis agar penerima bantuan dapat memaksimalkan penggunaan becak listrik sesuai standar operasional yang direkomendasikan.
Perdebatan mengenai becak listrik bantuan ini pun terus berkembang di media sosial. Banyak pihak berharap adanya klarifikasi dan evaluasi lebih lanjut agar program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi para penerimanya.(Rhz2797)
