Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa langkah militer Amerika Serikat terhadap Iran merupakan tindakan yang diperlukan setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah situasi yang semakin memanas akibat dugaan pelanggaran gencatan senjata serta serangkaian insiden terhadap kapal-kapal komersial.
Amerika Serikat diketahui melancarkan gelombang serangan terhadap sejumlah target strategis di Iran pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat. Selain operasi militer tersebut, Washington juga mencabut izin penjualan minyak Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Langkah itu diambil setelah tiga kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz. Insiden tersebut memicu kekhawatiran internasional karena jalur laut itu merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Mark Rutte menegaskan bahwa respons Amerika Serikat dinilai penting untuk menjaga kredibilitas gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Menurut Rutte, apabila terdapat pihak yang dianggap melanggar kesepakatan damai, maka reaksi tegas menjadi langkah yang tidak bisa dihindari. Ia menilai tindakan Washington merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan kawasan.
Di sela agenda KTT NATO, para pemimpin negara-negara Eropa juga berupaya memperkuat hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Mereka ingin memastikan komitmen penuh Washington terhadap aliansi pertahanan tersebut tetap terjaga di tengah berbagai perbedaan pandangan mengenai konflik Iran maupun isu geopolitik lainnya.
Rutte juga menyoroti pentingnya peningkatan anggaran pertahanan negara-negara Eropa dan Kanada agar sejalan dengan kontribusi Amerika Serikat. Menurutnya, pembagian beban pertahanan yang lebih seimbang akan memperkuat solidaritas NATO sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai ancaman global.
Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz masih menjadi sorotan utama. Iran dituduh berada di balik serangan terhadap tiga kapal komersial, termasuk kapal yang dikabarkan terkait Qatar dan Arab Saudi.
Namun tuduhan tersebut langsung dibantah pemerintah Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan negaranya tetap berkomitmen menjaga keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Meski demikian, Iran mengingatkan bahwa setiap kapal yang melintasi kawasan tersebut tanpa melakukan koordinasi dengan otoritas setempat dianggap mengambil risiko sendiri. Pernyataan itu kemudian diperkuat laporan media pemerintah Iran yang menyebut salah satu kapal tanker menjadi sasaran setelah mengabaikan sejumlah peringatan dari pasukan Iran.
Sebagai respons atas meningkatnya ancaman di kawasan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaksanakan operasi militer besar-besaran dengan menyerang lebih dari 80 target yang disebut berkaitan dengan Iran. Sasaran operasi meliputi sistem pertahanan udara, radar pesisir, hingga puluhan kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
IRGC kemudian mengklaim telah melakukan serangan balasan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait menggunakan rudal serta drone. Selain itu, mereka juga mengaku berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 milik AS.
Rangkaian aksi saling serang tersebut membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Pengamat menilai kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional sekaligus memengaruhi jalur distribusi energi dunia apabila eskalasi konflik terus berlanjut.(Rhz2797)
