Jepang tengah menghadapi gelombang panas ekstrem yang memicu lonjakan kasus gangguan kesehatan akibat suhu tinggi. Dalam waktu hanya satu hari, 453 orang di Tokyo harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, menjadikannya angka tertinggi sejak pencatatan resmi dimulai pada 2010.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah cuaca yang terus memburuk dan telah menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia dalam sepekan terakhir. Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko heat stroke atau sengatan panas.
Rekor Pasien Akibat Suhu Ekstrem
Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan bahwa sebanyak 453 warga menjalani perawatan medis pada Rabu (22/7/2026) akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu panas.
Selain mencatat rekor jumlah pasien, layanan darurat juga menerima panggilan bantuan dalam jumlah tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, menunjukkan semakin besarnya dampak cuaca ekstrem terhadap masyarakat.
Pihak berwenang terus mengingatkan warga agar menjaga tubuh tetap terhidrasi, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari, serta memanfaatkan pendingin ruangan apabila memungkinkan.
Korban Jiwa dan Pasien Kritis Bertambah
Di wilayah Tokyo yang dihuni sekitar 14 juta penduduk, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang panas yang sedang berlangsung.
Selain itu, empat orang berada dalam kondisi kritis, sementara sedikitnya 18 pasien lainnya menjalani perawatan intensif karena mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan suhu tinggi.
Secara nasional, lebih dari 11.000 orang dilaporkan membutuhkan penanganan medis darurat dalam kurun waktu satu pekan karena dampak cuaca panas ekstrem.
Suhu Tembus 41 Derajat Celsius
Beberapa wilayah Jepang mencatat suhu yang sangat tinggi. Kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka, bahkan mencatat temperatur mencapai 41,1 derajat Celsius, menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Meningkatnya suhu membuat pemerintah Jepang memperkenalkan istilah baru, yaitu "kokushobi", yang berarti hari dengan panas ekstrem. Istilah ini digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman cuaca yang dinilai sudah berada pada tingkat berbahaya.
Otoritas penanggulangan bencana Jepang menyebut kondisi tersebut tidak lagi bisa dianggap sebagai cuaca panas biasa, melainkan telah menyerupai bencana karena banyaknya korban yang harus dirawat bahkan meninggal akibat sengatan panas.
Wisatawan Ikut Merasakan Dampaknya
Gelombang panas juga dirasakan oleh wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Jepang. Banyak turis mengubah jadwal perjalanan agar bisa lebih sering berada di dalam stasiun kereta bawah tanah, pusat perbelanjaan, maupun tempat yang memiliki pendingin udara.
Seorang wisatawan asal Amerika Serikat mengaku dirinya bersama keluarga harus menyesuaikan seluruh agenda perjalanan demi menghindari paparan panas berlebihan, terutama demi menjaga kondisi anak-anak.
Ia menilai musim panas tahun ini terasa jauh lebih menyengat dibandingkan kunjungannya ke Jepang pada tahun sebelumnya.
Tips Mencegah Heat Stroke Saat Cuaca Panas
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa risiko heat stroke dapat meningkat secara signifikan saat suhu udara berada di atas normal. Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat disarankan melakukan beberapa langkah sederhana, antara lain:
- Minum air putih secara rutin tanpa menunggu rasa haus.
- Menghindari aktivitas berat di luar ruangan saat matahari sedang terik.
- Mengenakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat.
- Menggunakan topi, payung, atau pelindung kepala saat beraktivitas di luar.
- Beristirahat di tempat yang teduh atau berpendingin udara jika mulai merasa pusing, lemas, atau mengalami gejala kelelahan akibat panas.
Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan, pemerintah Jepang terus mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk memprioritaskan keselamatan serta mengikuti seluruh peringatan cuaca yang dikeluarkan otoritas setempat.(Rhz2797)
